UMK Karanganyar Masih Tertinggi, Buruh Belum Puas

by
Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

KARANGANYAR, kecirit.com – Meski upah pekerja di Karanganyar masih tetap tertinggi di wilayah Solo Raya, namun para buruh atau pekerja masih belum puas. Sebab upah yang diumumkan Pemprov Jateng Kamis (20/10) lalu dinilai masih belum maksimal dan belum sesuai KHL (kebutuhan hidup layak) 100 %.

Dalam pengumuman Gubernur, UMK Karanganyar diumumkan sebessar Rp 1.534.168. Terpaut sedikit dengan UMK Kota Solo yang hanya Rp 2.007 di bawah Karanganyar. Lainnya seperti Boyolali Rp 1.516.341, Klaten Rp 1.512.460, Sragen Rp. 1.404.520 dan paling bawah Wonogiri yang UMK-nya ditetapkan Rp 1.396.967.

Karanganyar menempati rangking ke-13 dari 37 kabupaten dan kota se Jateng yang termasuk deretan tinggi UMK-nya. Ini merupakan tahun ketiga UMK Karanganyar tertinggi di Solo Raya, sete;ah sebelumnya berada di bawah Kota Solo.

Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) Haryanto mengatakan, buruh sebetulnya berharap Bupati mengusulkan besaran UMK Karanganyar sesuai dengan 100 % KHL sebesar Rp 1.555.000.

”Itu sesuai dengan usulan buruh yang didasarkan pada hasil survei KHL di wilayah ini. Karena itu saat pertemuan bipartit dengan wakil pengusaha yakni pengurus Apindo, wakil pekerja tetap meminta usulan sebesar itu.”

Saat itu pertemuan memang deadlock karena usulan itu lebih tinggi dibandingkan dengan usulan para pengusaha sebesar Rp 1.534.168. Karena itu akhirnya keputusan diserahkan kepada Bupati untuk menentukan sendiri usulan ke Gubernur.

”Ternyata usulannya disamakan dengan usulan Apindo sebesar Rp 1.534.168 itu. Kami terus terang kecewa meski harus diakui masih sama dengan kondisi tahun lalu, hanya sekitar 98 % dari KHL. Artinya meski tertinggi, belum mencerminkan keberpihakan pemerintah kepada para pekerja,” jelasnya.

Sebetulnya jika diusulkan sama dengan usulan buruh yang Rp.1.555.000 posisi Karanganyar tetap rangking ke-13 di Jateng, persis berada di bawah Kota Salatiga yang UMK-nya ditetapkan Rp 1.567.609.

”Namun ada kepuasan para buruh karena sudah sesuai dengan janji memberikan upah buruh 100 % KHL. Artinya ada harapan pekerja mendapatkan haknya untuk hidup agak layak, karena ukuran KHL itupun hanya disurvei berdasarkan pekerja lajang. Bukan keluarga,” kata dia.

Haryanto masih belum tahu bagaimana reaksi dari para pekerja setelah ada pengumuman yang menyatakan UMK mengakomodasi usulan dari Apindo saja. Yang jelas, kecewa sudah pasti. Namun dia berharap tidak akan ada reaksi berlebihan dari rekan-rekannya.

Sementara dalam berbagai kesempatan, Bupati Juliyatmono mengatakan, meski belum bisa memenuhi rasa puas, namun dibandingkan daerah lain, beban pekerja di Karanganyar sudah lumayan ringan.

”Biaya pendidikan sudah digratiskan sejak 2014 lalu. Inflasi juga terendah se Solo Raya, pergerakan ekonomi juga sangat bagus, sehingga diharapkan secara keseluruhan akan berpengaruh pada tingkat kesejahteraan masyarakat.”

(Joko Dwi Hastanto/CN19/RED_KECIRIT NEWS UPDATE)