Tokoh Perempuan Tolak RUU Pertembakauan

by
Foto: istimewa

Foto: istimewa

JAKARTA, kecirit.com – Pengeluaran untuk membeli rokok masyarakat Indonesia ternyata cukup besar, setara dengan pengeluaran belanja bahan pangan.

“Masih banyak masyarakat yang lalai memberi gizi yang baik pada anak-anaknya,” ungkap Magdalena Sitorus, Koordinator Jaringan Perempuan Peduli Pengendalian Tembakau (JP3T) pada Konferensi Pers dalam rangka Hari Perempuan Internasional, “Demi Kesehatan Bangsa: Tokoh Perempuan Menolak RUU Pertembakauan” di Komnas Perempuan, Kamis (9/3).

Survei sosial ekonomi nasional 2016 menempatkan rokok sebagai pengeluaran per kapita terbesar ketiga untuk kelompok makanan di bawah pengeluaran untuk makanan-minuman jadi dan padi-padian. Pengeluaran  untuk makanan dan minuman jadi sebesar 29 persen, pengeluaran untuk padi-padian 14 persen, dan di urutan ketiga pengeluaran rokok 13,8 persen.

Pengeluaran untuk rokok sangat tinggi ketimbang untuk bahan pangan, padahal penambahan gizi yang baik diperlukan sejak dalam kandungan sehingga kita punya investasi jangka panjang untuk generasi yang sehat.

“Apalagi pada tahun 2025-2030 akan terjadi bonus demografi di mana usia produktif di Indonesia akan meningkat pesat,” lanjut Magdalena.

Henny Supolo Sitepu, Ketua Badan Pengurus Yayasan Cahaya Guru mengatakan, pendidikan tinggi akan percuma ketika manusia Indonesia justru sakit-sakitan. Ketika ada peningkatan mutu manusia Indonesia melalui pendidikan, diharapkan kualitas manusia yang membaik akan menjadi puncak bonus demografi bukan bencana demografi. “Ironis ketika pemerintah membiarkan perusakan generasi muda melalui rokok,” ungkapnya.

Diketahui, saat ini Kementerian Perindustrian dan Kementerian Kesehatan yang memimpin pembahasan RUU Pertembakauan. Dua kementerian yang selama ini memiliki prinsip bertolak belakang mengenai rokok justru sebagai leading sector.

(A Adib/ CN33/ SM Network)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *