Terlampaui, Target PAD Pendakian Gunung Slamet

by
MENDAKI SLAMET: Pendakian Gunung Slamet melalui Pos Pendakian Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Minggu (23/10).(kecirit.com/Ryan Rachman)

MENDAKI SLAMET: Pendakian Gunung Slamet melalui Pos Pendakian Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Minggu (23/10).(kecirit.com/Ryan Rachman)

PURBALINGGA, kecirit.com – Kepala Dinbudparpora Purbalingga, Drs Subeno MSi mengklaim target Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor Pos pendakian Gunung Slamet Bambangan, sejak September lalu sudah melampaui 100 persen lebih. Dari target setahun Rp 50 juta, sejak September lalu sudah lebih dari 100 persen terpenuhi.

“PAD Gunung Slamet sempat kami naikkan mulai dari dulu Rp 10 juta, Rp 25 juta, dan saat ini Rp 50 juta setahun. Semua terpenuhi dan saat ini nyaris semua sektor pariwisata target PADnya sudah terpenuhi,” tegas Subeno, Senin (24/10).

Tercapainya PAD itu, tak lepas dari usai ditutupnya pendakian melalui Posko Bambangan yang cukup lama. Akibatnya, usai dibuka, langsung pendakian dan peminatnya naik esktrim. Bahkan pada moment tertentu seperti HUT RI, pergantian tahun dan liburan panjang sekolah, selalu membludak.

“Kami terus upayakan semua cara agar target PAD bisa terpenuhi. Karena semua akan membantu dan mendukung naiknya potensi PAD yang kami kelola. Semua untuk pembangunan Kabupaten Purbalingga,” tambahnya.

Kepala Bidang Pariwisata Dinbudparpora Purbalingga, Ir Prayitno MSi mengungkapkan, sejak awal 2016 pendakian ke puncak Slamet terdata mengalami peningkatan. Dari bulan Januari hingga Agustus lalu, pendaki sudah tercatat mencapai 13.200 orang. Sementara jumlah pendaki selama 2015 hanya 6.971 orang.

Prayitno mengungkapkan, tiket masuk ke pendakian Gunung Slamet juga boleh dibilang paling murah jika dibanding dengan pendakian ke sejumlah gunung lain. Tiket masuk di pendakian Gunung Slamet hanya Rp 5.000,-/ orang. Tiket ini terbagi Rp 4.000,- untuk kas daerah Pemkab, dan Rp 1.000,- untuk operasional SAR jika ada evakuasi pendaki.
(Ryan Rachman/CN40/SM Network)