Tekan Seks Bebas, Mensos Sarankan Asrama Tanpa Daun Pintu

by
Foto: viva.co.id

Foto: viva.co.id

SEMARANG, suaramerdekacom – Maraknya seks bebas yang terjadi di kalangan pelajar maupun mahasiswa, Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa menyarankan pembuatan asrama baik untuk putra maupun putri tanpa daun pintu.

Khofifah di sela kunjungannya ke Semarang, Sabtu (29/10) menandaskan, “Tidak hanya antara laki-laki dan perempuan saja yang melakukan. Saat ini tidak kalah bahayanya adalah antara laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan.”

Dengan membuat asrama tanpa daun pintu menurutnya akan memudahkan pengawasan.

Menteri asal Surabaya itu mengaku mendapat inspirasi tersebut setelah melakukan kunjungan ke salah satu perguruan tinggi. Namun Khofifah tidak menyebut kampus yang telah menerapkan sistem asramanya tanpa daun pintu itu.

“Saat kami bertanya mengapa seperti ini? Rupanya mereka telah mengantipasi agar perilaku itu tidak terjadi. Makanya saya merekomendasikan asrama baik putra maupun putri tanpa daun pintu,” kata Khofifah.

Saat ditanya masalah privasi, mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan di masa Presiden Gus Dur itu mengaku tidak mempermasalahkan karena antara asrama laki-laki dan perempuan berbeda lokasi.

“Lha satu asrama itu hanya diisi perempuan semua atau laki-laki semua, privasi apa lagi?,” kata menteri yang saat ini sangat fokus dalam pengentasan kemiskinan serta pendidikan di Indonesia itu.

Dengan cara seperti ini, kata dia, diharapkan kegiatan remaja baik laki-laki maupun perempuan bisa dikontrok dengan baik sehingga perilaku seks bebas bisa diminimalisir. Selain itu peran orang tua juga sangat dibutuhkan untuk mengotrol perkembangan anaknya.

Dalam kunjungan ke Semarang selama dua hari ini, Mensos melakukan beberapa kegiatan di antaranya melakukan kuliah umum di Universitas Islam Sultan Agung Semarang hingga meresmikan Desa Sejahtera Mandiri pertama di Indonesia yaitu Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Dalam kunjungan tersebut, Mensos meminta kepada orang tua benar-benar mengontrol perkembangan anaknya termasuk bagaimana pendidikannya. Selain itu diharapkan waspada dengan kembali masuknya “ngelem” (menghirup lem) ataupun narkoba ke desa-desa.

(Ant/CN19)

loading...