Tanah di Kalisemo Ambles Satu Meter

by
BUAT PENGAMAN: Sejumlah warga membuat alat pengaman sederhana menggunakan bambu di ruas jalan yang terkena longsor di ruas Jalan Alternatif Purworejo-Wonosobo melewati Desa Nglaris Kecamatan Bener, Purworejo, belum lama ini. (kecirit.com/M.Abdul Rohman)

BUAT PENGAMAN: Sejumlah warga membuat alat pengaman sederhana menggunakan bambu di ruas jalan yang terkena longsor di ruas Jalan Alternatif Purworejo-Wonosobo melewati Desa Nglaris Kecamatan Bener, Purworejo, belum lama ini. (kecirit.com/M.Abdul Rohman)

PURWOREJO, kecirit.com – Sebanyak 64 jiwa dari 21 kepala keluarga (KK) di Dusun Berutengah Desa Kalisemo Kecamatan Loano, Purworejo, saat ini mendapat perhatian serius Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purworejo. Pasalnya, di wilayah dusun tersebut terdapat tanah ambles sedalam satu meter dan panjang mencapai 150 meter. Padahal jarak dari tanah yang ambles ke pemukiman warga, hanya berkisar 75 meter saja.

Koordinator Pusat Pengendali Operasi (Pusdalop) BPBD Purworejo, Salman menyebutkan, semenjak di laporkan oleh warga 16 Juni 2016 lalu, rekahan tanah yang diperparah dengan ambles tersebut terus mendapat perhatian khusus. “Kami terus memantau perkembangan rekahan dan tanah yang ambles di Dusun Berutengah Kalisemo tersebut. Karena kedalaman tanah yang ambles mencapai satu
meter dan panjang mencapai 150 meter,” ungkapnya kepada Suara Merdeka, kemarin.

Atas kondisi itu, pihaknya bersama warga terus berupaya untuk menutup rekahan tanah tersebut. Selain itu, pendampingan dan sosialisasi terhadap warga juga terus digencarkan, sehingga sebanyak 64 jiwa tersebut dapat siap siaga mengantisipasi terjadinya tanah longsor. “Warga satu dusun sudah sangat rawan sekali. Jadi kami terus meminta kepada mereka, jika terjadi hujan lebat antara 2-3 jam tidak berhenti, mereka harus segera mengungsi,” jelas dia.

Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan warga rawan terdampak, agar segera berkumpul di titik yang aman untuk segera dijemput petugas BPBD Purworejo. “Memang saat ini kondisi tanah perbukitan, lebih khusus perbukitan Menoreh sedang lapuk. Dari itu, peran aktif masyarakat sangat diharapkan guna mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan, seperti halnya yang terjadi Juni lalu,” terang Mbah Salman, berikut dia karib disapa.

Lebih lanjut dia menjelaskan, selain di Desa Kalisemo, kondisi pergeseran tanah juga terjadi di Desa Donorejo Kecamatan Kaligesing. Ada sekitar satu RT, terdiri dari 95 jiwa dari 30 KK rawan terdampak tanah longsor. “Kami juga terus meminta agar masyarakat sekitar segera mengungsi jika terjadi hujan dalam kurun waktu 2-3 jam tidak berhenti. Karena kondisi ini sudah sangat mengkhawatirkan, dan bisa sewaktu-waktu terjadi,” tutur dia.

Mbah Salman menjelaskan, hasil mitigasi bencana BPBD Purworejo bersama peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), kejadian tanah longsor yang terjadi di wilayah Purworejo sudah berpola. Rata-rata kejadian tanah longsor 95 persen berada di dekat aliran air. “Saat ini juga intensitas hujan masih sangat tinggi, bahkan curah hujannya dua kali lipat di atas normal imbas La Nina di Samudra Pasifik,” beber pria berjenggot tersebut.

Kepala Seksi Pencegahan BPBD Purworejo, Subiyanto menambahkan, ada sembilan kecamatan di Kabupaten Purworejo rawan bencana tanah longsor. Antara lain, Kecamatan Kaligesing, Kecamatan Purworejo, Kecamatan Bener, Kecamatan Bagelen, Kecamatan Loano, Kecamatan Gebang, Kecamatan Pituruh, Kecamatan Kemiri dan Kecamatan Bruno. “Ada sekitar 407.352 jiwa penduduk di sembilan kecamatan tersebut rawan terdampak longsor,” katanya.

Dikatakan, saat ini intensitas hujan masih tinggi, suhu udara berkisar 25-33 derajat Celcius dan kelembaban udara berkisar 65-90 persen. Jadi, jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi dalam kurun waktu 2-3 jam tidak berhenti, seluruh penduduk khususnya di wilayah perbukitan diharapkan bisa segera mengungsi ke tempat yang aman. “Jika hujan terus menerus antara 2-3 jam, sangat rawan sekali terjadi longsor, lebih baik segera mengungsi,” pintanya.

(M. Abdul Rohman/CN19/RED_KECIRIT NEWS UPDATE)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *