Sumpah Pemuda di Jogja Disambut Aksi Unjukrasa

by
Puluhan mahasiswa Yogyakarta, sambut Hari Sumpah Pemuda dengan Aksi Unjukrasa. (Foto: kecirit.com/Sugiarto)

Puluhan mahasiswa Yogyakarta, sambut Hari Sumpah Pemuda dengan Aksi Unjukrasa. (Foto: kecirit.com/Sugiarto)

YOGYAKARTA, kecirit.com – Hari Sumpah Pemuda di Yogyakarta, yang jatuh pada Jumat (28/10) disambut aksi unjukrasa oleh ratusan mahasiswa dan pelajar yang ada di kota itu. Organisasi pelajar dan mahasiswa yang turun ke jalan, antara lain GMINI, PMII, PMKRI, HMI, GMKI dan Komite Pimpinan Cabang Serikat Mahasiswa Indonesia.

Berbagai organisasi mahasiswa tersebut, menggelar aksi unjukrasa di titik Nol Yogyakarta atau di perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta, Jumat (28/10). Pada intinya mereka menuntut cita-cita mulia para pendahulu yang termaktub dalam Sumpah Pemuda di Cipayung.

Yaitu, menolak segala bentuk komersialisasi pendidikan. Menjunjung tinggi keutuhan bangsa dan pluralitas agama sebagai daya reat kesatuan. Mengawal Renaissance Yogyakarta. Mendorong pendidikan yang berkebudayaan kritis dan transformatif. Lawan Pasar Bebas dan MEA. Lawan Kapitalisasi Pendidikan dan masih banyak lagi lainnya.

Aksi damai yang dilakukan mahasiswa GMNI, PMII, PMKRI, HMI, GMKI mengatasnamakan ‘Gotong Royong Kepemudaan’. Sementara aksi yang satu lagi dari Komite Pimpinan Cabang Serikat Mahasiswa Indonesia. Gotong Royong Kepemudaan berangkat dari arah timur perempatan Kantos Pos Besar atau dari arah Jalan Panembahan Senopati.

Sementara puluhan Komite Pimpinan Cabang Serikat Mahasiswa Indonesia, datang dari arah Utara atau Jalan Malioboro. Kemudian kedua kelompok ini bersatu di Titik Nol Yogyakarta untuk menggelar aksi damai secara bersama-sama. ”Kebetulan misi yang kami perjuangkan sama,” kata Mardon, Koordinator Aksi Damai Serikat Mahasiswa Indonesia disela-sela aksi.

Aksi yang dilakukan para mahasiswa ini, cukup unik karena ada tiga mahasiswa yang rela tubuhnya dan wajahnya dicat warna putih jalan didepan sambil berjoget ria. Sementar massa yang lain membawa poster dan bendera Merah Putih serta bendera organisasi mereka sambil membawa poster yang isinya tuntutan mereka.

Dari taman parkir Jalan Abubakar Ali, mereka jalan kaki menuju titik Nol Yogyakarta. Semula mereka mau singgah di Kantor DPRD DIY, Jalan Malioboro, namun tidak jadi karena pintu utama kantor dewan ditutup. Kemudian para pengunjukrasa melanjutkan perjalanan menuju Kantor Pemda DIY dengan harapan bisa ketemu dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Namun niat itu, juga tidak bisa kesampaian karena karyawan Pemda DIY sudah pulang sehingga kantor pemd ditutup. Kemudian mereka hanya bisa berunjukrasa di pintu masuk kompleks Pemda DIY, namun 15 menit kemudian mereka meneruskan perjananan mereka menuju perempatan Kantor Pos Besar.

Aksi unjukrasa yang mereka sempat mengundang perhatian masyarakat yang kebetulan sedang melalui jalan tersebut, karena aksi mereka dinilai lucu dan asyik sehingga menarik perhatian warga yang kebetulan sedang melalui jalan tersebut. Setelah bergabung di Titik Nol Yogyakarta, kemudian mereka menggelar aksiu bersama-sama hingga massa semakin banyak dan meriah.

Aksi damai tersebut mendapat pengawalan dan penjagaan petugas kepolisian, karena dalam waktu yang bersamaan umat muslim juga menggelar aksi yang sama di Alun-alun Utara Yogyakarta. Berkat kesiapan petugas kepolisian Polresta Yogyakarta, aksi berjalan aman dan damai hingga aksi selesai digelar.

(Sugiarto/CN19/RED_KECIRIT NEWS UPDATE)