Sulit, Ubah Pola Pikir Petani Gunakan Pupuk Organik

by
PERTEMUAN: Turjangun, petani berprestasi nasional 2016, sedang mengisi acara dalam pertemuan dengan kelompok tani.(kecirit.com/ Trisno Suhito)

PERTEMUAN: Turjangun, petani berprestasi nasional 2016, sedang mengisi acara dalam pertemuan dengan kelompok tani.(kecirit.com/ Trisno Suhito)

BATANG, kecirit.com – Kondisi lahan pertanian sekarang ini dinilai memprihatinkan. Pasalnya, banyak lahan pertanian milik petani tercemari bahan-bahan kimia akibat penggunaan pupuk bukan organik atau kimia.

Hal tersebut dikatakan Turjangun, petani berprestasi tingkat nasional 2016 dari Desa Amongrogo, Kecamatan Limpung, Rabu (28/9).”Pola pikir atau mindset petani sekarang ini adalah memakai pupuk kimia untuk lahan pertanian mereka. Tanpa sadar, ini telah membuat tanah kita tercemari bahan-bahan kimia,” ujarnya.

Menurut dia, saat ini diperlukan perubahan pola pikir dan strategi dalam dunia pertanian. Petani diharapkan kembali menggunakan pupuk organik, bukan kimia. Pupuk organik sangat ramah dengan lingkungan. Sementara pupuk kimia, rawan mencemari, bahkan dapat merusak lingkungan. Termasuk kondisi tanah-tanah pertanian yang ada di Kabupaten Batang.

“Kita prihatin dengan kondisi dunia pertanian. Perlu strategi membangun pertanian berkelanjutan. Termasuk melakukan pemberdayaan agar petani mau kembali menggunakan pupuk organik,” katanya.

Turjangun sendiri saat ini memiliki PT Agro Lestari Makmur Nusantara yang memproduksi pupuk organik cair dengan merek Tabur Mas dan NUsa Green. Pemasarannya, tidak hanya di Jawa, melainkan sampai ke Sumatera, Aceh, dan Papua. Pupuk organik tersebut dibuat dari bahan limbah alami seperti kotoran sapi dan lainnya.

Turjangun menambahkan, dirinya selama ini selalu berupaya memotivasi agar kelompok tani menggunakan pupuk organik. Pasalnya, salah satu kunci untuk merubah pola pikir petani adalah melalui kelompok tani. Melalui pertemuan-pertemuan yang ada, Turjangun selalu berupaya untuk mengingatkan petani agar mau kembali menggunakan pupuk organik.

“Sayangnya, banyak organisasi kelompok tani yang kurang hidup. Rasa handarbeni dari petani juga kurang. Termasuk pertemuan-pertemuan yang ada kurang dilakukan. Karena itu, salah satu pekerjaan rumah sekarang ini adalah melakukan penguatan kelompok tani. Ruh kelompok tani harus dihidupkan,” tandasnya.
(Trisno Suhito/ CN40/ SM Network)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *