Sering Tak laku, Kisah Pilu Kakek Penjual Amplop Ini Bikin Air Mata Bergemuruh Deras

by
Sering Tak laku, Kisah Pilu Kakek Penjual Amplop Ini Bikin Air Mata Bergemuruh Deras

Siklus kehidupan manusia yang terus berputar, tak jarang menguji kadar keimanan dan kesabaran seseorang dalam menjalani setiap jengkal waktunya. Ada bertahan dengan cobaan hidup tersebut, namun ada pula yang menyerah ditengah jalan. Tak jarang, jalan pintas secara instan agar cepat sukses pun dipilih daripada harus bersusah payah menanggung derita...  BERITA UNIK

Namun, cara-cara kotor tersebut tak berlaku bagi sosok kakek renta yang satu ini. Ditengah kemiskinan hidup yang menderanya, ia tetap tegar berusaha untuk berjualan amplop, meski terkadang tak ada satupun pun yang membeli. Usianya yang tak lagi muda, bukan menjadi halangan baginya untuk mencari nafkah secara halal. Seperti apa kisah haru kakek bernama Darta tersebut? simak kisah selengkapnya dibawah berikut. TIPS KESEHARIAN

Mantan tukang sapu yang ingin mencari rezeki halal..  INFO SPECIAL

http://danaqq.net/?ref=Ciaciaa



Tak banyak jumlah sosok pekerja keras seperi kakek Darta. Di usianya yang telah senja, ia masih saja semangat mencari rezeki dengan cara yang halal. Ia tak ingin berpangku tangan begitu saja menunggu rezeki datang. Alih-alih mengemis, mantan tukang sapu di sebuah sekolah SMA Kota Bandung tersebut, memilih untuk berdagang amplop surat sebagai caranya untuk bertahan hidup. Cukup kontras diantara penjual lainnya yang menjajakan barang modern seperti mainan, elektronik dan makanan.

Hidup hemat dan sederhana dengan berjalan kaki

http://danaqq.net/?ref=Ciaciaa



Sungguh luar biasa perjuangan dari seorang Darta tersebut. Untuk berjualan setiap harinya, ia rela menempuh jarak puluhan kilometer demi menjemput rezekinya. Rutinitas tersebut telah ia jalani selama 12 tahun. Selama itu pula, ia tetap setia berjualan amplop surat, meski zaman modern yang serba digital seperti saat ini, tak lagi banyak orang membutuhkannya. Dengan berjalan kaki, ia dapat menghemat penghasilannya agar bisa digunakan untuk makan.

Pekerjaan berat dengan upah yang tak seberapa



Tangannya yang telah keriput dan semakin menua tersebut, tampak bergetar lirih menyusun tumpukan amplop di hadapannya. Amplop berukuran kecil 5×3 cm dan ukuran besar 10×9 cm, dijual masing-masing seharga Rp 1.000 isi 10 buah dan Rp 2.000 isi 20 buah. Mirisnya, kakek Darta hanya mengambil keuntungan Rp 200 dari setiap bungkus amplop yang terjual, baik kecil maupun besar. Sebuah nilai yang tidak artinya di tengah zaman yang serba hedonis dan kapitalis ini.

Berpindah-pindah tempat berjualan demi sesuap nasi

http://danaqq.net/?ref=Ciaciaa



Diketahui, kakek Darta sering dijumpai berjualan di seberang pintu utama kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Jika dirasa dagangannya sepi, ia pun berpindah tempat. Seperti di sekitaran Rumah Sakit Sukajadi maupun membuka lapaknya di kawasan Simpang Lima, Dago, Bandung. Meski terasa berat karena harus dilakukannya dengan jalan kaki, Darta percaya bahwa Tuhan akan menunjukan jalan rezekinya di tempat yang disinggahinya tersebut.

Kakek inspiratif tersebut akhirnya kembali ke pangkuan yang Maha Kuasa



Setelah kisah perjuangannya yang sempat viral dan mengundang banyak simpati, Netizen harus dibuat sedih kembali lantaran sosok kakek inspiratif tersebut telah tiada. Hal ini diceritakan oleh seorang netizen yang bernama Rinaldi Munir. Kakek yang juga sangat religius tersebut, tak lagi ditemuinya di tempat biasa ia terlihat berjualan. Selamat jalan kakek Darta. Kisahmu akan terus dikenang dan menginspirasi banyak orang untuk selalu tabah dalam menghadapi kerasnya hidup.

Sosok renta yang tak pernah lelah untuk berusaha tersebut, sangat menginspirasi bagi siapa saja yang membaca kisahnya hidupnya. Kegigihan yang diperlihatkannya di usia yang tak lagi muda, seakan menohok hati kita yang masih mengeluh menyalahkan hidup dan suka bermalas-malasan. Bacalah kisahnya sejenak, kemudian renungkan dalam-dalam. Apakah kita tak malu dengan sosok kakek tersebut?