Seribu WNI Terlantar di Jepang

0
37
Foto: istimewa

Foto: istimewa

SEMARANG, kecirit.com – Sebanyak 1.000 WNI terlantar di Jepang. Mereka terlantar karena memanfaatkan aturan bebas visa di negara tersebut yang sebenarnya diberlakukan untuk berwisata.

“Angka itu dalam rentan Januari 2015 hingga akhir 2015, sampai sekarang mereka masih terlantar dan banyak yang mengadu di KBRI. Mereka memanfaatkan aturan tersebut untuk mencari pekerjaan di Jepang. Padahal bebas visa berlaku untuk wisatawan berada maksimal selama 15 hari,” kata Pejabat Fungsional Diplomat Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan Hukum Indonesia (BHI) Kemenlu RI, Didik Eko P ketika berkunjung ke kantor Suara Merdeka, Jalan Raya Kaligawe Km 5.

Didik didampimgi Direktur Pelayanan Penempatan Pemerintah (PPP) Deputi Bidang Penempatan BNP2TKI, R Hariadi Agah bersama rombongan diterima Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, Hendro Basuki dan Sekretaris Redaksi, Eko Hari Mujiharto.

Kemudian para WNI tersebut dimintakan suaka politik. Menurutnya hal itu sangat bertentangan dengan asas dan hukum Republik Indonesia.

Dia menambahkan, selain di Jepang sebenarnya banyak TKI yang tertipu ketika berangkat ke luar negeri seperti Korea, Hongkong, Taiwan, Malaysia dan negara Timur Tengah. “Ini perlu dicermati bersama dan masyarakat harus tahu. Jika ingin ke luar negeri harus mencari informasi yang benar. Mau bekerja apa dan disana mau sampai kapan,” imbuhnya.

Hariadi Agah menerangkan, di Jepang tertutp untuk tenaga kerja asing yang dilarang UU mereka. Untuk mensiasati aturan tersebut biasanya dilakukan program magang.

“WNI yang boleh bekerja di Jepang sebenarnya hanya perawat yang bekerja di rumah sakit dan panti lansia. Masyarakat tidak paham bahwa di Jepang tidak menerima tenaga kerja asing selain perawat. Biasanya yang berangkat ditipu, sampai di Jepang cari kerja ditolak kemudian mereka terlantar dan lari ke KBRI.”

Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, Hendro Basuki menerangkan, pendapatan per kapita di Jawa Tengah yang rendah menjadikan masyarakat mencari lahan pekerjaan di luar negeri. Menurutnya Jateng merupakan daerah pemasok TKI yang paling banyak.

“Contohnya daerah Kendal, Grobogan, Pati, Cilacap, dan beberapa kabupaten/kota di Jateng banyak mengirim tenaga kerja ke luar negeri. Pendapatan per kapita di Jateng berada di urutan 22-23 di Indonesia, itu sangat rendah,” ungkapnya.

Hendro menerangkan, pembangunan infrastruktur di Jawa Tengah sepertinya tidak merubah kondisi masyarakat. Apalagi saat ini ada pengurangan dana alokasi umum (DAU) pada semua kabupaten/kota di Indonesia.

(Afri Rismoko/ CN33/ SM Network)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here