Sempat Tolak Bermain dengan Timnas, Begini Nasib Para Darah Indonesia Sekarang

by
Sempat Tolak Bermain dengan Timnas, Begini Nasib Para Darah Indonesia Sekarang

Bermain di timnas Indonesia merupakan suatu hal yang diimpikan oleh banyak pemain tanah air. Sebagai darah Indonesia mengenakan seragam merah menjadi suatu menjadi kebanggaan dan prestasi besar. Namun, hal tersebut bukanlah patokan, bahwa setiap pemain mau bermain untuk timnas. Sepak bola yang tidak stabil dan minimnya prestasi terkadang membuat orang enggan membela panji garuda.  BERITA UNIK

Seperti beberapa pemain top Eropa yang lebih memilih negara tempatnya lahir meski masih berdarah Indonesia. Bahkan tak jarang menolak panggilan untuk berseragam merah putih. Umumnya mereka melihat peluang lebih besar untuk mampu berprestasi dalam karir. Hal tersebut menjadi suatu kewajaran apabila melihat sepak bola Asia Tenggara yang masih jauh tertinggal. Lalu bagaimana nasib mereka sekarang? Simak ulasannya berikut.  INFO SPECIAL

Emil Audero Mulyadi meninggalkan Juventus setelah memilih timnas Italia

Bermain di Juventus membuat kemampuan berdarah NTB ini tidak usah dipertanyakan lagi. Emil Audero, bahkan tembus menjadi kiper ketiga tim top Eropa tersebut. Sebagai kiper cadangan Buffon membuatnya tak jarang dimainkan pada kompetisi Italia. Saat namanya mulai melambung panggilan timnas Indonesia datang padanya pada tahun 2017. Namun, dirinya menolak hal tersebut dan lebih memilih membela timnas Italia. TIPS KESEHARIAN



Sebagai pemain tentu panggilan negara pemenang Piala Dunia empat kali sulit untuk ditolak. pemain berdarah Indonesia dari sang ayah Emil Mulyadi ini saat ini dipinjamkan ke klub divisi dua Italia, Venizia. Hal tersebut adalah hal yang baik karena dirinya akan banyak mendapatkan menit bermain.

Andry Syahputra bermain di klub kasta teratas liga Qatar

Bakat besarnya sebagi pesepak bola, tentunya tidak diragukan lagi. kehebatannya dalam mengolah sikulit bundar kerap diberitakan oleh media Qatar. Bahkan saat membela negara Asia Timur melawan Inggris kemampuannya di waspadai. Kiprahnya di sana terbilang tidak biasa-biasa saja lho sobat, melansir Bolalob, dirinya adalah top skore dan best player di Aspire Academy dan Al-Gharafa Sc.



Pemain asli Indonesia tersebut menolak panggilan timnas saat dibukanya seleksi U-19. Saat itu dirinya lebih memilih Qatar U-18 sebagai pelabuhan karirnya ke depan. Lantaran masih sibuk kuliah dan fokus pada timnya saat itu. Saat ini dirinya bermain pada salah satu kesebelasan Liga Qatar. Di Al-Gharafa Sports Club, kabarnya pemain ini bermain dengan legenda Belanda Wesley Sneijder.

Miro Baldo Bento penyerang hebat habiskan tua di Porto

Tidak hanya pemain muda yang menolak untuk berlaga dengan timnas. Ada beberapa pemain yang pernah berkostum merah putih tapi enggan untuk kembali. Salah satunya adalah Miro Baldo Bento, pemain hebat saat memperkuat tim PSM Makasar. Dirinya bahkan sempat membawa menjadi top skore piala Tiger 1998.



Darah Indonesia mengalir deras lantaran Indonesia menjadi satu dengan Timor Leste sebelumnya. Setelah berpisah menjadi negara sendiri-sendiri Bento enggan kembali untuk berseragam timnas. Seperti yang diungkapkan JUARA.net yang mengatakan bahwa Miro tak ingin memperkuat Tim Merah-Putih sebab merasa sebagai waraga Timor Leste. Saat pemain ini memperkuat Porto di Liga Timor Leste.

Boaz Salossa pernah tolak panggilan timnas Indonesia karena trauma

Menolak timnas saat pernah berlaga dengan Tim Merah-Putih juga pernah dilakukan oleh Boaz Salossa. Pemain Persipura ini menolak pergi ke timnas lantaran masih trauma dengan kakiknya pernah patah dua kali. Kejadian tersebut terjadi saat memperkuat timnas melawan Hongkong, saat itu Kaki Boaz patah lantaran dilanggar keras dari belakang.



Kisah tersebut terjadi saat timnas akan melakukan pertandingan internasional. Melansir laman Goal, penyerang lokal tersubur ini, tercatat pernah menolak Timnas sebanyak dua kali. Namun, sekarang kapten timnas tersebut selalu hadir saat timnas membutuhkan. Kiprah pemain ini sekarang dapat di saksikan saat kita menonton Persipura berlaga.

Panggilan timnas memanglah sebuah hal yang tidak bisa ditolak untuk warga Indonesia. Pasalnya sebagai darah Indonesia membela negara adalah kewajiban. Namun, bukan suatu yang salah juga apabila seorang telah memutuskan perjalanan karirnya. Karena sebagai manusia yang merdeka ada hak-hak yang harus tetap di hargai. Seperti kasus Emil dan Andry contohnya, pilihan kepada negara lain menjadi hal realistis apabila melihat sepak bola tanah iar yang masih banyak masalah. Jadi tidak perlu menghujat mereka, bakat pesepak bola hebat negara kita sudah membludak, tinggal dioptimalkan secara baik dan benar.