Samin dan Pertahanan Jati Diri

by
Foto: Phinemo

Foto: Phinemo

JAKARTA, suaramerdekacom – Deputi bidang ilmu sosial dan humaniora Lembaga Ilmu Pendidikan Indonesia (LIPI) Jakarta mengadakan The 1st international conference on social science and humanities 18 s.d 20 Okt 2016 di auditorium LIPI Jl.Gatot Subroto kav 10 Jakarta.

Sejumlah 484 pemakalah yang diterima panitia dari mancanegara dan dalam negeri, 188 dipresentasikan di hadapan audien dan narasumber dari pakar nasional dan internasional. Di antara pemakalah adalah Moh Rosyid, peminat kajian Samin.

Ia memaparkan hasil risetnya perihal upaya warga Samin di Kudus dalam mempertahankan jati dirinya sebagai pemeluk agama Adam. Konsekuensi mengaku beragama Adam, meski oleh pemerintah dikategorikan penghayat kepercayaan, sehingga warga di lingkungan Samin masih ada yang beranggapan bahwa wong Samin tak beragama. Anggapan itu tak bedanya era kolonial Belanda terhadap wong Samin.

Keteguhannya mengakui agama Adam, wong Samin mengharap pada pemerintah, agama Adam diakui sebagai agama sah, bukan lagi dipandang sebagai penghayat.

Menurut Moh Rosyid, sudah saatnya publik memahami bahwa negara tak berwenang membatasi jumlah agama karena beragama apa pun hak privasi (tak boleh dibatasi) oleh siapa pun. Hal ini tertuang daam konvensi hak sipil yang dilindungi pasal 29 UUD 1945. Secara ekonomi politik, masih ada kekhawatiran bila selain enam agama diakui negara maka aspek anggaran/pembiayaan menjadi hal krusial, tandas dosen STAIN Kudus itu.

(Er Maya/CN19/RED_KECIRIT NEWS UPDATE)

loading...