Saatnya Beralih ke Gas Bumi

by
LAKUKAN PENGECEKAN: Petugas sedang melakukan pengecekan instalasi Metering Regulator Station (MRS) yang dipasang Perusahaan Gas Negara (PGN) Semarang di pabrik PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Jl Tambak Aji Semarang, belum lama ini. (kecirit.com/Maulana M Fahmi)

LAKUKAN PENGECEKAN: Petugas sedang melakukan pengecekan instalasi Metering Regulator Station (MRS) yang dipasang Perusahaan Gas Negara (PGN) Semarang di pabrik PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Jl Tambak Aji Semarang, belum lama ini. (kecirit.com/Maulana M Fahmi)

NEGARA Indonesia kaya akan sumber daya alamnya. Sepertinya, ungkapan tersebut kini hanya dongeng saja. Cerita bahwa sumber daya alam Indonesia tidak akan habis sampai ratusan tahun untuk anak cucu perlu dipertanyakan. Cadangan energi sangat memprihatinkan dan bahkan akan mengalami krisis energi dalam waktu dekat. Tentu, kondisi ini merupakan ancaman serius bagi masyarakat Indonesia.

Indonesia merupakan negara terbesar posisi keempat di dunia. Kondisi geografis yang terpencar ribuan pula membutuhkan energi dalam jumlah yang sangat besar. Konsumsi energi bahan bakar minyak (BBM) negeri ini, misalnya, semakin meningkat melebihi kemampuan produksinya. Data menunjukkan konsumsi energi (BBM) Indonesia sebesar 1,5 juta barrel per hari tentu jumlah yang sangat melebihi dari kemampuan produksi dalam negeri yang hanya sebesar 650.000 barrel per hari.

Sejak tahun 1990-an produksi minyak mentah Indonesia telah mengalami tren penurunan yang berkelanjutan karena kurangnya eksplorasi dan investasi di sektor ini. Di beberapa tahun terakhir sektor minyak dan gas negara ini sebenarnya menghambat pertumbuhan PDB. Target-target produksi minyak, ditetapkan oleh Pemerintah setiap awal tahun, tidak tercapai untuk beberapa tahun berturut-turut karena kebanyakan produksi minyak berasal dari ladang-ladang minyak yang sudah menua. Saat ini, Indonesia memiliki kapasitas penyulingan minyak yang kira-kira sama dengan satu dekade lalu, mengindikasikan bahwa ada keterbatasan perkembangan dalam produksi minyak, yang menyebabkan kebutuhan saat ini untuk mengimpor minyak demi memenuhi permintaan domestik.

Penurunan produksi minyak Indonesia dikombinasikan dengan permintaan domestik yang meningkat mengubah Indonesia menjadi importir minyak dari tahun 2004 sampai saat ini. Cadangan minyak yang terbukti di seluruh negara ini telah turun dengan cepat menurut sebuah publikasi dari perusahaan minyak BP. Di 1991 Indonesia memiliki 5,9 miliar barel cadangan minyak terbukti namun jumlah ini telah menurun menjadi 3,7 miliar barel pada akhir 2014 lalu.

Konsumsi minyak sangat berlebih sementara produksi terus menurun. Produksi dari tahun ke tahun terus turun sementara pertumbuhan penduduk semakin meningkat. Akibatnya, krisis energi benar-benar mengancam.

Pemerintah kemudian mau tidak mau harus mengimpor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kondisi perekonomian Indonesia bergantung dari harga minyak dunia. Kebutuhan minyak Indonesia perhari sebesar 1,5 juta barrel dengan kemampuan produksi 650.000 tentu defisit yang sangat besar harus ditutupi dengan impor dan diperparah dengan semakin menurunnya kemampuan produksi.

Kini, sudah saatnya Indonesia mengurangi ketergantungan pada minyak. Mirip dengan negara lain, pemerintah telah berusaha mengurangi ketergantungannya pada minyak sebagai sumber energi karena harga minyak yang tinggi dan masalah lingkungan hidup. Saat ini, kira-kira 50% energi negara ini bersumber dari minyak, angka yang ingin dikurangi Pemerintah menjadi 23% pada tahun 2025 dengan menempatkan lebih banyak penekanan pada sumber-sumber terbarukan.

Ya, salah satunya upaya yang dilakukan adalah mengonversi Bahan Bakar Minyak (BBM) menuju Bahan Bakar Gas (BBG). PT Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai satu-satunya BUMN yang menyalurkan gas berkomitmen membangun infrastruktur gas bumi di berbagai wilayah di Indonesia.

Direktur PGN Dilo Seno Widagdo menuturkan, PGN selama ini secara konsisten terus membangun. Gas bumi yang disalurkan PGN sampai saat ini mengalir ke sektor industri, listrik,UKM dan rumah tangga. “Sebagai BUMN Gas yang telah berusia setengah abad, PGN secara aktif terus membangun infrastruktur-infrastruktur baru untuk memudahkan akses masyarakat dan industry ke gas bumi,” tuturnya.

Untuk mendukung program konversi ke BBG, PGN telah membangun sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) dan Mobile Refueling Unit (MRU) sejak tahun 2013. Sementara tahun ini PGN menargetkan membangun sebanyak 16 SPBG dan MRU di sejumlah kota di Indonesia. Inisiatif PGN untuk membangun SPBG, MRU tersebut dilakukan lantaran perusahaan percaya bahwa gas bumi adalah solusi terbaik untuk mengatasi ketergantungan yang teramat besar terhadap BBM yang berakibat pada tingginya beban subsidi pemerintah.

Melalui pemanfaatan gas bumi, para pelanggan industri PGN bisa menghemat biaya energi hingga Rp 53 triliun per tahun jika dibandingkan menggunakan BBM. Karena itu ia optimis pembangunan infrastruktur yang didukung oleh para stakeholder lainnya, baik di sektor hulu (pasokan), ATPM, maupun hilir (pengguna BBG), akan mampu mewujudkan konversi ke BBG. “Prinsipnya adalah sinergi bersama, saling dukung dan kerja yang konkret, karena konsepnya sudah ada dan bisa dilakukan,” ujarnya.

Hingga saat ini infrastruktur pipa gas bumi yang dibangun dan dioperasikan PGN mencapai lebih dari 7.200 km. Jumlah tersebut setara dengan 76% total pipa gas hilir yang ada di seluruh Indonesia. PGN telah menyalurkan gas bumi ke berbagai wilayah di Indonesia. Pelanggan PGN tersebar mulai dari Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Utara, sampai Papua.

Gas bumi PGN saat ini mengalir ke lebih dari 116.600 pelanggan rumah tangga. Selain itu, 1.900 usaha kecil, mal, hotel, rumah sakit, restoran, hingga rumah makan, serta 1.580 industri berskala besar dan pembangkit listrik. PGN juga menyalurkan gas bumi untuk transportasi, saat ini PGN telah mengoperasikan 7 Statiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG), mensuplai gas untuk 8 SPBG mitra, dan mengoperasikan 5 MRU.

Komitmen menambah infrastruktur gas bumi terus dilakukan. Sampai kuartal I-2016, PGN sudah menambah panjang pipa gas bumi di berbagai daerah lebih dari 109 km. Di antaranya di Pasuruan, Jawa Timur, PGN menyelesaikan pembangunan pipa gas bumi di wilayah Kejayan-Purwosari sepanjang 15 kilometer (Km). Kemudian ada di wilayah Jetis-Ploso yang berada di wilayah Mojokerto dan Jombang sepanjang 27 km yang dapat memasok gas bumi hingga 65 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

PGN juga menyelesaikan proyek pipa distribusi gas bumi di wilayah Nagoya, Pulau Batam sepanjang 18,3 km. PGN juga sedang menyelesaikan pipa gas bumi di wilayah Kalisogo-Waru, Jawa Timur sepanjang 30 km. Proyek pipa gas ini dapat dimanfaatkan calon pelanggan seperti industri pakan, food beverage, keramik dan kawasan industri baru di sekitar wilayah Sidoarjo, Jawa Timur.

Gas bumi PGN juga merambah ke Semarang dan sejumlah daerah di Jawa Tengah. Kali pertama, PGN menyalurkan gas bumi ke Perumahan Wahyu Utomo Ngaliyan Semarang. Sebanyak 150 rumah teraliri gas bumi pada Oktober 2014. Pemasangan gas bumi ke rumah warga disambut gembira.

Nyonya Taufik, salah seorang warga RT 5 RW 6 semula tidak ingin memasang bahkan cenderung menolak dengan alasan keamanan. Namun, karena petugas PGN meyakinkan dan aktif sosialisasi ia akhirnya setuju. “Pemasangan pipa gas tanpa dipungut biaya. Bahkan petugas meyakinkan kalau penggunaan gas bumi relatif aman, murah dan efisien,” katanya.

Saat ini ia sudah memakai gas bumi selama dua tahun. Biaya energi untuk memasak lebih murah dibanding menggunakan elpiji. Dalam sebulan ia sebelumnya menghabiskan empat elpiji 3 kilogram. Total harga pemakaian 4 tabung elpiji 3 kg mencapai Rp 64.000. Sementara, jika menggunakan gas bumi untuk memasak hanya sekitar Rp 15-20 ribu per bulan.

Dikatakannya, pemakaian gas bumi lebih aman dibanding elpiji. Sebab, tekanan elpiji lebih besar dibanding gas bumi. Massa gas bumi lebih ringan dari elpiji. Selain itu, gas bumi lebih cepat mengurai ke udara. Sehingga, tidak membahayakan masyarakat.

Manager Area Distribusi PGN Semarang, Edy Sukamto menuturkan, untuk rumah tangga suplai gas bumi sebesar 10-15 meter kubik per rumah tangga per bulannya. Ia menjamin distribusi gas untuk rumah tangga tidak membahayakan. Pihaknya telah melengkapi sistem pengamanan tiga lapis pada tiap rumah. Pengamanan itu berupa kran yang dapat memampatkan aliran sebelum melewati meteran pengukur dan regulator, sebelum kompor, dan pada kompor jika mengalami masalah.

“Gas di dalam pipa sangat rendah tekanannya, yaitu 0,2 bar. Setelah melewati regulator, tekanan kemudian diperkecil menjadi 0,02 bar. Itu berbeda jauh dengan tekanan yang digunakan pada tabung elpiji, yakni 10 bar,” ujarnya.

Tidak hanya itu, pipa utama yang ditanam sedalam 1 meter di bawah tanah yang melewati rumah warga juga dilengkapi pelindung. Wujud pelindungnya, adalah berupa penanda jika terdapat pipa gas. Pipa juga dilindungi bilah beton yang dapat melindungi dari penggalian dan tekanan berat. Pipa yang digunakan juga tebal, berukuran 0,6 milimeter. Pipa itu telah dilapisi antikorosi, tahan dari tekanan hingga 20 bar selama 20 tahun.

Biaya bulanan penggunaan gas pelanggan rumah tangga rata-rata Rp 33.000/bulan. Dia menambahkan biaya tersebut lebih murah sekitar 40% dibandingkan bila menggunakan elpiji, karena harga gas Rp 3.300/m3, sedangkan elpiji Rp 6.000/m3. “Kami akan terus mengembangkan pelayanan gas agar bisa dinikmati seluruh warga Semarang,” katanya.

Untuk memperluas pemanfaatan gas bumi bagi rumah tangga, PGN juga sudah meluncurkan program “PGN Sayang Ibu”, yaitu menambah jumlah pelanggan rumah tangga hingga 1 juta pelanggan. Program PGN Sayang Ibu diluncurkan untuk mempercepat penyaluran gas bumi ke rumah tangga.

Guna memperkuat ketahanan energi nasional, pemanfaatan gas bumi merupakan solusi yang paling tepat. Sebagai energi baik, gas bumi sangat aman, murah dan ramah lingkungan, sangat cocok untuk energi keluarga Indonesia. Selain rumah tangga, PGN juga menyasar kawasan industri Tambak Aji Ngaliyan. Salah satunya kawasan industri Tambak Aji yaitu PT Indofood Fritolay dengan suplai gas bumi sebanyak 125-150 ribu meter kubik per bulan.

Pembangunan pipa distribusi ini merupakan komitmen PGN mengembangkan infrastruktur terintegrasi di Jawa Tengah. Pipa distribusi tersebut yaitu berupa Compressed Natural Gas (CNG) clustering, yang merupakan fasilitas CNG yang dihubungkan dengan jaringan pipa distribusi sebagai penunjang yang menghubungkan ke pelanggan.

Dimulainya tahap konstruksi infrastruktur gas bumi tersebut, lanjut Edy, seolah menghidupkan kembali pipanisasi gas yang sudah ada sejak tahun 1857 hingga tahun 1994 dengan bahan dasar gas dari batubara. Pipa distribusi gas peninggalan Belanda itu pada masanya bisa melayani 2.000 pelanggan rumah tangga dan pelanggan lain seperi RS Elisabeth, RS dr. Kariadi, RS Telogorejo, dan RS Panti Wiloso. Dahulu pipa tersebut bisa menyalurkan gas bumi di sejumlah pabrik di Jalan Empu Tantular sampai Jatingaleh, Kaligawe, dan sepanjang Banjir Kanal.

“Namun saat ini jaringan sudah tidak ada. Untuk memulai pipanisasi gas ini dibutuhkan jaringan pipa baru. Dan, proses ini memakan waktu yang tidak sebentar,” katanya.

Dikatakannya, sebelumnya harus ada persetujuan warga atau industri. Pihaknya berharap semua rumah tangga di Semarang dapat teraliri gas bumi. Adapun, PGN sudah memiliki rencana pembangunan infrastruktur distribusi gas bumi yang terintegrasi di Jateng.

Nantinya, pembangunan pipa gas distribusi terbagi tiga tahap. Yaitu pembangunan pipa Koridor I meliputi Kendal-Semarang-Demak sepanjang 48 kilometer. Koridor II meliputi wilayah Ungaran sepanjang 34 kilometer, dan koridor III Solo Raya-Pati-Pekalongan sepanjang 235 kilometer. Di wilayah-wilayah tersebut akan dibangun jalur pipa untuk distribusi gas rumah tangga.

Edy mengatakan, PGN berkomitmen terus memperluas infrastruktur jaringan gas bumi di sejumlah daerah di Jateng. Salah satunya, saat ini PGN sedang merampungkan proyek pipa gas di kawasan Industri Wijaya Kusuma Semarang sepanjang 9 kilometer. Dengan selesainya proyek di kawasan Wijaya Kusuma, akan menambah pengguna gas bumi di Semarang terutama dari kalangan industri.

“Proyek pipa sepanjang 9 kilometer tersebut telah mengalirkan gas dengan kapasitas 35 juta kaki kubik per hari. Saat ini sudah rampung,” katanya.

Pasokan gas bumi tersebut nantinya dapat ditingkatkan sampai 100 juta kaki kubik per hari. Dalam waktu dekat PGN akan mengalirkan gas bumi ke sejumlah industri seperti di PT Nippon Indosari, PT Intac Brass, PT Cargil dan industri lainnya di Semarang.

Setelah ini, PGN akan memperluas jaringan pipa gas bumi di sejumlah wilayah lainnya di Jateng seperti Kendal, Rembang, Pati, Kudus sampai Demak. Utamanya di industri-industri di daerah tersebut. Sebab, selama ini mereka masih menggunakan bahan bakar seperti solar, batu bara, elpiji bahkan kayu bakar. Dengan gas bumi ini, kata dia, maka energi yang dikeluarkan lebih efisien, bersih, mudah dan aman. (Fista Novianti/CN38/SM Network)