Ragam Mimpi di Teater Arena

by

RUANG Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta (TBS) dipenuhi mimpi-mimpi sejumlah orang, Selasa malam lalu. Dan semua mimpi yang hadir itu ada yang dianggap sebagai sesuatu yang nyata dan bisa dicapai, namun ada yang menganggap mimpi sekadar bunga tidur. Dan mimpi bisa menjadi bahan pembicaraan di sebuah angkring wedangan yang justru bisa menghadirkan suasana hangat dan familier.

Itulah gambaran yang hadir pada pergelaran Teater Lungit Solo yang mengusung lakon Impen (mimpi). Karya Djarot B Darsono yang sekaligus bertindak sebagai sutradara itu, didukung sejumlah teaterawan muda Solo. Lewat dialog-dialog berbahasa Jawa seharian, makin membuat pementasan terasa lebih realistis mengungkap dua sisi kehidupan manusia Dua sisi kehidupan itu dihadirkan lewat dua setting panggung yang cukup artistik.

Kehidupan seorang juragan yang sudah bangkrut, digambarkan sebagai seorang yang kesakitan. Dengan properti botol dan selang infus, sosok juragan yang juga buta itu, meratapi kehidupannya yang banyak diwarnai mimpi. Mimpi juragan yang ingin kembali sukses itu dicoba dibela dengan hitungan angka-angka maupun untung-rugi. Namun semuanya hanya dalam angan bukan tindakan nyata mewujudkan mimpinya.

Ditemani salah satu temannya yang masih mau diundang untuk mendengarkan ratapan dan angan-angannya untuk bisa kembali menjadi juragan yang berlimpah harta. Temannya yang dulu pernah hidup melarat namun mau berjuang mencapai kesuksesan itu, justru dianggap hanya memberikan kotbah dan pamer kesuksesannya.

Pada adegan lain, hadir tiga pemain memerankan kehidupan rakyat kecil yang juga dikebaki oleh impen-impen-nya. Mereka tidak menjadikan mimpi itu sebagai satu keinginan untuk dicapai, namun sekadar menjadi bahan omongan di kala mereka nongkrong di wedangan. Adalah penjual wedangan, tukang becak dan seorang sinden, menghadirkan konflik sendiri dalam mengungkapkan mimpi-mimpi mereka.

Hadirnya seorang anak muda yang sakit jiwa, memberikan suasana pergelaran terasa marak dengan gelak tawa dan aplus penonton. Meski dianggap tidak waras, namun justru dia menghadirkan realitas kehidupan yang sedang berlangsung saat ini. Pergelaran yang berdurasi sekitar dua jam itu terasa melelahkan, meski sebenarnya mampu menghadirkan suasana segar bagi penonton. Pisuhan (umpatan) yang sering hadir di tengah masyarakat, ikut menjadi pemicu aplus serta gelak tawa penonton yang juga disuguhi iringan musik keroncong. ( Sri Wahjoedi-50)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *