Produksi Jamu Berbahaya, Pabrik Beromzet Ratusan Juta Digerebek

by
Petugas menunjukan barang bukti obat dan jamu ilegal tak disertai ijin dari Balai POM dan Depkes. (kecirit.com/ Apit)

Petugas menunjukan barang bukti obat dan jamu ilegal tak disertai ijin dari Balai POM dan Depkes. (kecirit.com/ Apit)

SEMARANG, kecirit.com – Direktorat Reserse Narkoba Polda Jawa Tengah berhasil mengungkap praktik produksi dan peredaran obat dan jamu tradisional tak berijin di Cilacap, Jawa Tengah. Selain tak mencantumkan ijin resmi, obat jamu ini juga dinilai berbahaya untuk tubuh peminumnya, karena mengandung bahan-bahan kimia berbahaya.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Djarod Padakova mengatakan, pengungkapan ini bermula dari seorang pelaku bernama Suyit yang mengedarkan obat dan jamu tradisional tersebut. Kemudian dilakukan penggeledahan di rumah pelaku di Desa Lebo, Warungasem, Batang, dan ditemukan ratusan pack jamu dari berbagai merek.

“Pengungkapan dilakukan pada 20 Februari lalu, dari pelaku didapat keterangan dia mengambil barang dari dua pelaku yang memproduksi jamu ini di Cilacap,” terangnya saat gelar perkara di kantor Dit Resnarkoba Polda Jateng di Jalan Dr Wahidin, Semarang, Kamis (9/3).

Lalu kasus ini pun dikembangkan, hingga akhirnya pada 3 Maret, petugas menggerebek dua pabrik obat dan jamu tradisional itu. Pabrik pertama adalah milik Afi yang berada di sebuah gudang di Dusun Tinggarjati, Gentasari, Kroya, Cilacap. Sedangkan pabrik kedua milik Gino yang berada di sebuah rumah di Dusun Rawabaya, Gentasari, Kroya, Cilacap.

Dari kedua pabrik itu, petugas menyita barang bukti berupa ratusan karton obat dan jamu siap edar, bahan-bahan untuk membuat obat dan jamu, alat-alat, serta kemasan pembungkus jamu. Jamu yang diproduksi oleh pelaku di antaranya, jamu pegal linu Akar Tanjung, jamu pegal linu Godong Ijo, Jamu Urat Madu Black, Jamu Buah Merah, Jamu Gingseng Mahkota Dewa, Jamu Anrat, Madu Klenceng, dan jamu kuat lelaki Dongkrak.

“Dari keterangan pelaku, mereka sudah memproduksi sejak tiga tahun yang lalu, kalau dari omzet pabrik ini menghasilkan antara Rp 50 juta – Rp 100 juta,” tambah Direktur Dit Resnarkoba Polda Jateng, Kombes Pol Krisno Siregar.

Djarod menambahkan, semua pelaku tidak dilakukan penahanan, karena selama dalam pemeriksaan, pelaku kooperatif. Mereka dijerat Pasal 196 UU RI Nomer 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan hukuman 10 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. Atau mereka juga dikenakan Pasal 197 UU RI No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dengan hukuman 15 tahun penjara dan denda Rp 1,5 miliar.

(Apit Yulianto/ CN33/ SM Network)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *