Pokoh Kidul dan Giripurwo jadi Percontohan Layak Anak

by
ANAK-ANAK: Anak-anak turun dari mobil seusai mengikuti pawai di Kabupaten Wonogiri, beberapa waktu lalu. (Foto: kecirit.com/Khalid Yogi)

ANAK-ANAK: Anak-anak turun dari mobil seusai mengikuti pawai di Kabupaten Wonogiri, beberapa waktu lalu. (Foto: kecirit.com/Khalid Yogi)

WONOGIRI, kecirit.com – Desa Pokoh Kidul dan Kelurahan Giripurwo, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri kini menjadi pilot project (percontohan) Desa/Kelurahan Layak Anak (DLA/KLA). Ke depan, Pemkab akan menunjuk salah satu desa/kelurahan di setiap kecamatan untuk dijadikan desa/lelurahan layak anak. Selanjutnya, seluruh desa dan kelurahan di kabupaten tersebut diproyeksikan menjadi DLA/KLA.

Kepala Badan Keluarga Berencana Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Perempuan (BKBKSPP) Kabupaten Wonogiri, Reni Ratnasari melalui Kasubid Perlindungan dan Advokasi, Theresia Esti Hastuti mengungkapkan, Desa Pokoh Kidul dan Kelurahan Giripurwo dijadikan percontohan untuk program tersebut. “Pokoh Kidul dan Giripurwo telah mendapatkan pelatihan untuk menjadi desa/kelurahan layak anak,” kata Esti, baru-baru ini.

Salah satu program yang dijalankan untuk menjadi DLA/KLA antara lain menerapkan jam belajar anak. Setiap pukul 18.30-20.30, keluarga dilarang menyalakan televisi agar kegiatan belajar anak tidak terganggu.

Selain itu, warga didorong membentuk forum anak agar kebutuhan mereka dapat dipenuhi melalui musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) desa/kelurahan. “Dengan cara itu, anak-anak bisa dilibatkan dalam Musrenbang,” ujarnya.

Menurutnya, hak-hak anak perlu dipenuhi. Antara lain berupa penyediaan taman bermain, taman baca, serta memfasilitasi kegiatan untuk anak-anak.

Apabila pilot project di kedua desa/kelurahan itu sukses, setiap kecamatan akan diminta menunjuk satu desa/kelurahan untuk dijadikan DLA/KLA. “Ke depan, harapan kami seluruh desa dan kelurahan di Wonogiri sudah layak anak,” harapnya.

Selain menjadikan desa dan kelurahan layak anak, pihaknya juga menunjuk sekolah layak anak. Salah satu sekolah yang ditunjuk adalah SD 1 Wonogiri.

Untuk menjadi sekolah layak anak, sekolah tersebut harus memiliki fasilitas dan cara pembelajaran yang ramah anak. “Sekolah harus terbuka apabila ada kasus-kasus yang menimpa anak. Contohnya, kalau ada anak nakal atau melanggar, jangan ditutup-tutupi agar tidak merembet ke kasus-kasus lain. Apabila ada persoalan, lebih baik segera melapor ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Penanganan yang cepat dan tepat dapat menekan angka putus sekolah,” terangnya.

(Khalid Yogi/CN19/RED_KECIRIT NEWS UPDATE)