Persoalan Penanganan Sampah Diminta Diprioritaskan

by
SAMPAH MENUMPUK: Sejumlah petugas berupaya mengangkut sampah yang menunpuk di tepi Jalan Cinderawasih, Kelurahan Randugunting, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal. (kecirit.com/Wawan Hudiyanto)

SAMPAH MENUMPUK: Sejumlah petugas berupaya mengangkut sampah yang menunpuk di tepi Jalan Cinderawasih, Kelurahan Randugunting, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal. (kecirit.com/Wawan Hudiyanto)

TEGAL, kecirit.com – Sejak sewa lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Muarareja habis pada awal November 2015, persoalan sampah di Kota Tegal hingga kini tak kunjung ada solusi yang memadai.

Sampah semakin banyak yang berserakan di tepi jalan karena Tempat Penampungan Sampah (TPS) tak mampu menampung. Kondisi tersebut seperti terjadi di TPS di Jalan Cinderawasih, Kelurahan Randugunting, sehingga sering dikeluhkan oleh masyarakat.

Terkait masalah tersebut, Ketua Komisi III DPRD, Sutari menyampaikan, setiap harinya produksi sampah di Kota Tegal mencapai sekitar 44 truk atau sekitar 270 meterkubik. Sejumlah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang dibangun di sejumlah wilayah kelurahan belum berfungsi maksimal dan untuk pembuangan sampah mengandalkan lahan di sebelah Kantor Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Persampahan.

“Dengan kondisi seperti ini, kami menyarankan Pemkot segera berupaya menyediakan lahan untuk TPA. Sebab, apabila hal itu tidak dilakukan penumpukan sampah akan menjadi persoalan serius yang sulit untuk ditangani,” katanya.

Sutari menjelaskan, mesin pembakar sampah (insenerator) yang dibangun di sejumlah TPST juga tidak berfungsi efektif. Justru proses pembakaran insenerator menimbulkan polusi karena tinggi cerobong asap hanya 3 meter. Padahal, sesuai saran dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) ketinggian cerobong harus 15 meter.

Dia mengemukakan, Pemkot Tegal sempat berencana membangun 11 TPST pada tahun 2016, namun mengalami hambatan. Sebab, dari jumlah tersebut hanya lima TPST yang bisa dilaksanakan, sedangkan enam TPST yang belum bisa direalisasikan karena terkendala lahan.

Oleh karena itu, anggarannya di drop dalam pembahasan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2016. “Kami minta enam TPST tersebut agar direncanakan kembali pada APBD murni tahun 2017. Sekaligus sambil mencari lahan yang memungkinkan,” tegasnya.

Sutari menyampaikan, selain itu, pihaknya mendesak agar desain TPST dikaji ulang, baik dari sisi bentuk maupun teknis terutama terkait insenerator yang menimbulkan polusi udara.

Adanya rencana pembangunan TPA di Bokong Semar, pihaknya juga mendorong agar ada upaya konkret dan diusulkan pada APBD murni 2017. Sehingga, secepatnya dapat membuat akses jalan dan pada tahun 2018 mendatang TPA tersebut bisa benar-benar terealisasi untuk mengatasi persoalan persampahan di Kota Tegal.

“Pada prinsipnya untuk TPST kami setuju, tapi insenerator seharusnya ramah lingkungan dan tidak berdampak polusi udara,” ungkapnya.

(Wawan Hudiyanto/CN39/SM Network)