Perlu Ditambah, Populasi Burung Predator Tikus

by
KARANTINA: Salah satu kegiatan karantina burung hantu yang berada di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati Kudus baru - baru ini.(kecirit.com/Ruli Aditio)

KARANTINA: Salah satu kegiatan karantina burung hantu yang berada di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati Kudus baru – baru ini.(kecirit.com/Ruli Aditio)

KUDUS, kecirit.com – Hama tikus yang bermunculan pada musim tanam pertama (MT I), tentunya cukup meresahkan. Bahkan berbagai upaya telah dilakukan untuk memutus mata rantai hama pengerat tersebut agar tidak berkembang. Di sisi lain jika dibiarkan maka akan berpotensi gagal tanam.

Oleh karena itu perlu adanya pembasmian secara efektif. Salah satunya dengan menggunakan burung hantu jenis Tito Alba yang diyakini bisa menekan perkembangbiakan tikus hingga lebih dari 50 persen.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kudus, Catur Sulistyanto saat memantau kondisi lahan pertanian padi di Kudus menjelaskan, salah satu bentuk pengendalian hama tikus yang masih efektif memang menggunakan burung hantu.”Oleh karena itu populasi burung yang berfungsi sebagi predator tikus tersebut perlu ditambah,” katanya.

Ia menuturkan, dari data inventarisasi karantina burung hantu dan rubuhan (rumah burung hantu) hingga Oktober ini ada penambahan yang cukup signifikan.”Awalnya kami membantu sekitar 25 pasang burung hantu dan kini jumlah bertambah. Karena di antaranya ada yang melakukan pengadaan secara swadaya,” tambahnya.

Mengenai jumlah rubuhan dan burung hantu yang tersebar di lahan pertanian Kabupaten Kudus, ia menjelaskan biasanya dari jumlah total rubuhan hanya separuhnya berpenghuni.”Masing – masing dihuni satu pasang burung hantu,” ujarnya.

Sedangkan untuk total rubuhan, Catur menjelaskan, untuk Kecamatan Jati jumlah karantina ada satu unit, rubuhan 36, rubuhan yang terhuni 12. Kecamatan Undaan tempat karantina ada tujuh unit, rubuhan 430 unit, dan yang dihuni ada 206 unit.”Selanjutnya Kecamatan Mejobo ada tiga unit tempat karantina, rubuhan 101 unit, dan rubuhan terhuni ada 63 unit. Sedangkan Kecamatan Jekulo ada satu unit karantina, dan 20 unit rubuhan dan yang terhuni 11 unit rubuhan. Kemudian Kecamatan Kaliwungu ada 13 unit karantina, 590 unit rubuhan dan yang terhuni 295 unit rubuhan,” paparnya.

Namun untuk memaksimalkan keberadaan burung hantu tersebut perlu adanya aturan perlindungan satwa.”Sebab pada kenyataan di lapangan masih ada pihak yang sengaja memburu, baik ditangkap mau pun ditembak. Tentunya itu mengganggu populasi burung tersebut,” jelasnya.

Di sisi lain pihaknya ingin petani juga aktif menjaga dan melestarikan keberadaan burung – burung tersebut dari gangguan pihak – pihak yang tidak bertanggungjawab.”Disamping itu untuk melestarikan populasinya mereka bisa membuat sendiri rubuhan di lahan pertanian mereka,” tandasnya.
(Ruli Aditio/CN40/SM Network)