Pembangunan Gedung Apung Sudah 80 Persen

by
HAMPIR RAMPUNG: Pembangunan gedung apung di Tambakrejo, Gayamsari sudah 80 persen, Senin (24/10). Gedung tersebut dibangun di atas styrofoam yang dipadatkan sehingga mengapung di atas air.(kecirit.com/Hendra Setiawan)

HAMPIR RAMPUNG: Pembangunan gedung apung di Tambakrejo, Gayamsari sudah 80 persen, Senin (24/10). Gedung tersebut dibangun di atas styrofoam yang dipadatkan sehingga mengapung di atas air.(kecirit.com/Hendra Setiawan)

SEMARANG, kecirit.com – Pembangunan Gedung Apung yang ada di Tambakrejo, Gayamsari sudah 80 persen. Kini, tinggal pemasangan sebagian atap dan pemasangan instalsasi listrik dan air. Gedung percontohan tersebut ditargetkan selesai, dua pekan lagi.

Gedung yang nantinya menjadi balai pertemuan warga dan perpustakan tersebut dibangun di atas styrofoam yang dipadatkan. Bangunan tersebut memiliki luas 150 m2 dan terdapat dua lantai. Lantai dasar untuk pertemuan sedangkan lantai dua untuk perpustakaan.

“Pembangunan sudah 80 persen, tinggal pemasangan atap, instalasi listrik dan air. Rencananya akan menggunakan tenaga surya. Untuk saluran air, menggunakan instalasi biofilter. Nantinya, instalasi itu yang akan mengolah air dari sekitar,” kata mandor pembangunan Andi Tri, Senin (24/10).

Pembangunan gedung ini merupakan proyek dari Kementerian Pekerjaaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Proyek senilai Rp 1 Miliar tersebut menjadi percontohan bangunan apung di Indonesia. Sebelumnya juga telah dibangun jembatan apung di Cilacap, dengan konsep yang sama.

Sementara itu, Soleh, warga Tambakrejo mengaku pernah menaiki bangunan yang hampir jadi tersebut. Dia mengatakan, gedung tidak goyang saat air bergelombang. Gedung hanya bergerak naik turun, mengikuti ketinggian air saat pasang dan surut.

“Teknologi yang digunakan sangat bagus. Warga mendukung dibangunnya gedung pertemuan ini. Ke depan, pemerintah juga harus mencontohkan pembangunan rumah bagi warga dengan biaya yang lebih sedikit. Dengan begitu masyarakat dapat meniru membangunnya,” sambung Soleh.

Proyek dari pemerintah pusat ini merespon penurunan tanah di kawasan pesisir Semarang yang mengalami penurunan tanah 12 sentimeter pertahun.

Terpisah, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menuturkan, selain menjadi percontohan, gedung apung tersebut akan menjadi salah satu daya tarik Kampung Bahari yang saat ini tengah dibangun. Bila efektif, juga dapat menjadi contoh bagi warga.

“Ya nanti kami akan lihat jadinya seperti apa. Bila cocok untuk masyarakat pesisir, kami akan minta Kementerian PUPR untuk diperbanyak. Bisa jadi, dalam pembangunan ke depan, menggunakan APBD Kota Semarang,” ujar pria yang akrab disapa Hendi ini.
(Hendra Setiawan/CN41/RED_KECIRIT NEWS UPDATE)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *