PDAM Andalkan Air Baku PT STU

by

AMBARAWA- PDAM Tirta Bumi Serasi untuk sementara waktu bakal mengandalkan pasokan air baku dari PT Sarana Tirta Ungaran (STU), untuk menjamin kelancaran suplai ke pelanggan.

Upaya tadi dilakukan, karena debit air dari beberapa sumber mata air milik PDAM belum pulih, meski curah hujan di Kabupaten Semarang sudah tinggi. ”Sudah ada kesepakatan PDAM dan PT STU, bahwa harga air yang kami beli, di bawah produksi yang diproduksi oleh PDAM,” kata Ketua Dewan Pengawas PDAM Tirta Bumi Serasi, Deny Ariawan, setelah melihat pembangunan jaringan pipa di Tambakboyo, Ambarawa, Rabu (26/10) siang.

Dia memerinci, jika PDAM memproduksi sendiri, maka membutuhkan biaya sekitar Rp 3.500/meter kubik. Adapun jika membeli air baku dari PT STU, maka cukup mengeluarkan biaya lebih kurang Rp 1.100/meter kubik. ”Itu yang perlu diluruskan. Artinya sesuai perjanjian air baku dari PTSTU bisa untuk melayani masyarakat dan industri,” imbuhnya.

Yang terjadi saat ini, mayoritas pelaku industri belum sepenuhnya sadar untuk membeli atau memakai air baku dari PT STU. Hal itu karena mereka masih mengandalkan sumur bor untuk mencukupi kebutuhannya. ”Padahal itu jelas merusak lingkungan, termasuk sumber air milik PDAM,” jelasnya.

Penyertaan Modal

Untuk diketahui, PDAM Tirta Bumi Serasi, sesuai perjanjian awal berhak mendapat royalti ketika PT STU menjual air baku ke industri. Jika banyak industri yang memakai air PTSTU, maka otomatis deviden yang diperoleh PDAM akan besar pula. Dari deviden yang didapat, akan disetorkan ke Pemkab Semarang sebagai pendapatan asli daerah (PAD). ”Jadi kembali lagi ke masyarakat. Deviden 2015 sudah disetorkan tahun ini sebesar Rp 148 juta,” rincinya. Selain melihat proses pembangunan pipa jaringan di Tambakboyo, Ambarawa, rombongan Dewan Pengawas juga menyambangi Kantor Cabang PDAM Ambarawa. Di kantor yang berada di Lingkungan Baran, Ambarawa, rombongan menemui pelanggan yang membayar tunggakan langganan air.

Kepada wartawan, Dirut PDAM Tirta Bumi Serasi, Moch Agung Subagyo, mengatakan bahwa memaparkan demi kelancaran cakupan layanan hingga 2019 Pemkab Semarang telah menyetujui adanya penyertaan modal kepada PDAM. Penyertaan ini agar masyarakat, terutama warga miskin, lebih terbantu untuk memperoleh air bersih. ”Kami berupaya mengembangkan jaringan, masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) cukup membayar Rp 500 ribu, untuk pemasangan pipa jaringan subdistribusi baru,” paparnya, sembari menuturkan untuk pemasangan tarif reguler sebesar Rp 1,2 juta.

Apabila ada gangguan atau pengaduan layanan, setiap pelanggan bisa menghubungi nomor call center yang tertera pada rekening pembayaran air setiap bulannya. Terlepas dari itu, pihaknya mengakui saat ini masih menerapkan sistem giliran air di beberapa wilayah. Itu dilakukan karena beberapa faktor, seperti pasokan listrik untuk pompa air yang sering padam disamping belum pulihnya debit air dari sumber. ”Namun demikian, kami berjanji akan membenahi secara bertahap,” kata dia. (H86-63)

loading...