Museum Kebencanaan Liyangan Diharapkan Mendunia

by
DIPERTAHANKAN: Tumpukan material vulkanik yang tampak menjulang tinggi di belakang pelataran candi di Situs Liyangan pada acara Grebeg Agung Liyangan beberapa hari lalu, ini akan dipertahankan sebagai bagian dari museum kebencanaan. (kecirit.com/Raditia Yoni Ariya)

DIPERTAHANKAN: Tumpukan material vulkanik yang tampak menjulang tinggi di belakang pelataran candi di Situs Liyangan pada acara Grebeg Agung Liyangan beberapa hari lalu, ini akan dipertahankan sebagai bagian dari museum kebencanaan. (kecirit.com/Raditia Yoni Ariya)

TEMANGGUNG, kecirit.com – Penelitian terhadap Situs Mataram Kuno Liyangan, di ketinggian Gunung Sindoro masih akan terus berlanjut. Pada lokasi situs yang disebut merupakan terlengkap di dunia ini akan dijadikan pula sebagai museum kebencanaan. Museum ini kelak diharapkan bisa dijadikan sarana edukasi sekaligus menujang sisi pariwisata alam serta budaya.

Bupati Temanggung Bambang Sukarno berharap agar kelak Museum Kebencanaan di Liyangan akan mendunia. Lantaran jika dilihat dari sudut pandang keilmuan bisa sangat bermanfaat, terutama pembelajaran tentang kebencanaan, sehingga dikemudian hari bisa digunakan untuk meminimalisir bencana atau dampak dari bencana alam.

“Kita akan carikan tempat untuk museum kebencanaan di lokasi Liyangan. Saya berharap museum ini kelak akan mendunia, dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), juga akan datang ke sini (Liyangan, red). Nanti sekitar bulan November akan diadakan pula seminar nasional tentang Liyangan,”ujarnya kemarin.

Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemendikbud RI Harry Widiyanto sebelumnya mengatakan, pemerintah berencana membangun museum skala nasional di Liyangan dengan model modern bersifat research scientific berbasis IT. Di museum ini nanti akan menggambarkan secara gamblang bagaimana kaitan antara dampak bencana terhadap cagar budaya.

Keberadaan museum dirasa sangat penting sebagai salah satu sarana memberikan informasi kepada masyarakat. Museum tersebut rencana mulai dibangun pada tahun 2017, lalu tahun 2016 akan dilakukan pembuatan master plan dan detail engineering desain.

Pada November 2015 lalu bahkan sekitar 30 pakar benda cagar budaya dari seluruh Indonesia berkumpul di Situs Mataram Kuno Liyangan, untuk melakukan kajian mendalam terhadap situs ini. Para ahli itu antara lain, berasal dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Balai Pelestarian Budaya Serang, Jambi, Aceh, Jateng, DIY, Trowulan Mojokerto, Samarinda, Ternate, dan Bali.

Kajian mendirikan museum kebencanaan itu akan mewakili seluruh kejadian bencana terhadap cagar budaya di Indonesia. Pasalnya, Indonesia sangat rentan terhadap masalah bencana, baik dari ring of fire letusan gunung ataupun pergerakan lempeng tektonik yang sering mendapatkan gempa bumi kekuatan besar dengan implikasi cagar budaya.

Koordinator Lapangan, Kajian Terpadu Pelestarian Situs Liyangan Andi Muhammad Said mengatakan, berkenaan dengan tujuan membuat Situs Mataram Kuno Liyangan sebagai museum kebencanaan, maka tidak semua material yang menutup kawasan itu akan dibuka.

Salah satu yang tidak akan diambil atau dibersihkan adalah tumpukkan material vulkanik hasil erupsi Gunung Sindoro seribu tahun silam. Tumpukkan material dari perut gunung setinggi 12 meter dengan panjang 40 meter, di sisi timur Liyangan akan dipertahankan sebagai penggambaran tentang kebencanaan, disamping museum secara arkeologis.

Menurut dia, kelak di Liyangan akan diekspose menjadi satu objek dari sisi kebencanaan. Jika struktur asli dari hasil erupsi Sindoro itu tetap utuh maka orang akan tahu seperti apa proses tertimbunnya permukiman oleh material vulkanik hingga mengubur pula peradaban yang ada pada masa lalu. (Raditia Yoni Ariya/CN38/SM Network)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *