Monetisasi Netflix, LINE, Clash of Clans: Tak Serupa Tapi Sama

by

TeknoKecirit – Bayangkan sebuah aplikasi mobile yang selalu kamu gunakan setiap saat dan satu aplikasi lagi yang terkadang membuatmu jengkel. Kedua aplikasi yang berbeda ini ternyata memiliki kesamaan yang tidak kamu sadari. Ketika aplikasi streaming video seperti Netflix atau aplikasi chatting seperti LINE telah biasa digunakan oleh banyak orang, namun banyak dari kita yang tidak sadar bahwa aplikasi-aplikasi tersebut ada di kategori yang kurang disenangi banyak orang — aplikasi freemium.

Banyak orang mengaitkan monetisasi freemium ini dengan aplikasi video game yang menggunakan pendekatan desain untuk meyakinkan penggunanya melakukan in-app purchase. Game seperti Farmville atau Clash of Clans menghadirkan gameplay yang secara sengaja didesain untuk “memaksa” penggunanya membayar sejumlah uang untuk memudahkan permainan mereka. Rasanya sulit untuk melihat orang bicara apa adanya ketika ditanya bahwa apakah level tinggi yang mereka miliki itu hasil grinding atau karena in-app purchase.

Sekilas, membandingkan perasaan malu tersebut dengan aplikasi populer seperti LINE dan Netflix terdengar tidak masuk akal. Atau sebaliknya?

Apakah sebenarnya freemium itu?

Monetisasi | Gambar 1

Sumber: Pexels

Berdasarkan Investopedia, freemium adalah sebuah model bisnis di mana sebuah produk atau jasa menyajikan dua pilihan, gratis dan berbayar. Aplikasi jenis ini bebas diunduh secara gratis, tetapi penggunanya akan dikenakan biaya untuk menjalankan fitur dan juga item virtual yang ada di dalam aplikasi.

Karenanya tidak heran game seperti Farmville dan Clash of Clans ada di kategori freemium ini. Barang virtual yang dibeli dengan uang nyata akan memungkinkan pemain untuk lebih cepat meningkatkan level dalam game. Layanan streaming musik seperti Spotify juga bekerja secara freemium. Kamu bisa menggunakannya secara gratis, namun pengguna dapat meningkatkan pengalaman mereka mendengarkan lagu dan fitur unggulan lainnya dengan membayar keanggotaan Spotify Premium.

Mendulang uang dengan aplikasi mobile memang tidak mudah, tetapi aplikasi freemium ini berhasil menjaring porsi besar dari total pendapatan aplikasi. Di tahun 2016, tak kurang dari US$30 miliar (sekitar Rpxxx) berhasil diraih, dan angka ini diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada 2020. Menurut App Annie’s App Monetization Report, iklan dalam aplikasi  dan aplikasi freemium akan mengambil porsi sebanyak sembilan puluh persen dari pendapatan aplikasi antara tahun 2015 hingga 2020.

Laporan App Annie tersebut menyoroti bahwa aplikasi freemium dapat hadir dalam berbagai bentuk. Seperti yang telah dibuktikan Spotify, ternyata aplikasi freemium tidak perlu bersifat manipulatif atau memaksa penggunanya. Hal ini bergantung kepada penerbit aplikasi untuk memutuskan strategi monetisasi mana yang cocok dan audiens yang mereka tuju.

Kamu ingin mempelajari lebih banyak tentang monetisasi aplikasi? Isilah form di bawah ini dan dapatkan akses ke App Annie’s 2016 App Monetization Report.

Berikut adalah lima aplikasi populer yang menggunakan model monetisasi freemium.

Netflix

Monetisasi | Netflix

Layanan streaming Netflix adalah satu dari beberapa aplikasi freemium yang menggunakan model berlangganan. Menurut App Annie, sistem berlangganan kini telah lebih umum digunakan, yang menghasilkan sekitar lima belas persen dari total pendapatan toko aplikasi.

Cara Netflix mendapatkan uang dari penggunanya adalah dengan menerapkan sistem langganan berbayar, tetapi kini mereka berusaha untuk menjaring lebih banyak lagi pengguna dengan program trial mereka. Layanan Netflix bebas digunakan selama satu bulan secara gratis bagi pengguna baru — dengan semua fitur terbuka. Setelah kamu puas menggunakan layanan Netflix secara gratis selama satu bulan, kamu dapat melanjutkannya dengan membayar biaya keanggotaan. Upaya ini dilakukan untuk meyakinkan pengguna tentang kelebihan aplikasi tersebut, dan menolong Netflix untuk mendapatkan pengguna baru sebanyak-banyaknya.


Dropbox

Monetisasi | DropBox

Layanan cloud storage populer, Dropbox, melakukan monetisasi aplikasi mereka dengan pembatasan pada layanan. Aplikasi ini menawarkan ruang penyimpanan gratis namun terbatas; pengguna harus membayar lebih untuk memperbesar ukuran ruang penyimpanan mereka.

Banyak dari penyedia layanan online yang menggunakan model freemium ini, yang membatasi akses ke konten, bandwidth, atau gameplay. Sebagai contoh, New York Times membatasi artikel yang dapat kamu baca sebelum meminta pengguna untuk mendaftarkan diri mereka menjadi anggota — yang memungkinkan pengguna mengakses seluruh artikel yang ada. Sama halnya dengan biaya US$0,99 (sekitar Rp13 ribu) yang kamu keluarkan untuk mengakses level baru di Candy Crush.


LINE

Monetisasi | LINE

Fungsi utama LINE mungkin adalah pesan instan, tetapi aplikasi ini berhasil melakukan monetisasi melalui beberapa fitur yang ada. LINE berhasil meraup hingga US$ 1 miliar (sekitar Rp13 triliun) penjualan pada tahun 2015, dan App Annie menamakan mereka top-earning non-gaming app publisher pada waktu yang sama. Lebih dari empat puluh persen penjualan dihasilkan dari in-app purchase di platform game mereka, yang dapat kamu unduh dan mainkan secara gratis. Sebagian kecil monetisasi mereka dapatkan juga melalui penjualan stiker

Rata-rata transaksi pada LINE Sticker Store ini kebanyakan adalah keinginan pengguna untuk menambah pengalaman mereka terhadap aplikasi ini. Pengguna memiliki akses gratis untuk mengunduh beberapa jenis stiker, tetapi mereka harus membayarkan sejumlah uang untuk membeli stiker-stiker eksklusif atau ingin memberikannya kepada teman.

Metode monetisasi ini sangat populer digunakan pada game seperti Clash on Clans, dimana kamu dapat membayar untuk gold dan elixir untuk meningkatkan pengalaman bermain kamu. Aplikasi kencan Tinder juga menggunakan metode ini: Kamu dapat membayar fitur tertentu untuk meningkatkan peluang kamu mendapatkan “match”.


Trivia Crack

Monetisasi | Trivia Crack

Banyak aplikasi game menggunakan iklan yang dilihat pengguna sebagai sumber pendapatan mereka. Dalam laporannya, App Annie menyimpulkan bahwa sumber pendapatan terbesar dari aplikasi mobile adalah iklan in-app. Namun aplikasi game seperti Trivia Crack menggunakan pendekatan yang berbeda — pengguna dapat menghilangkan iklan hanya dengan membayarkan sejumlah kecil uang.

Model bisnis seperti ini bergantung kepada asumsi bahwa pengguna tidak akan menggunakan alternatif lain yang gratis — seperti ad blocker mobile — untuk menghilangkan iklan yang mengganggu. Ada juga peluang bahwa pengguna akan jengah dengan aplikasi karena iklan dan mencari alternatif lain yang lebih bebas iklan.


Spotify

Monetisasi | Spotify

Beberapa aplikasi lainnya memilih untuk menggunakan kombinasi metode untuk mengubah pengguna gratis menjadi pengguna berbayar.

Spotify adalah contoh yang luar biasa. Sama seperti Netflix, layanan streaming musik ini menyajikan free trial dari layanan berbayar mereka, Spotify Premium. Tidak seperti Netflix yang tidak dapat digunakan setelah masa trial usai, Spotify tetap memungkinkan pendengar untuk dapat menggunakan aplikasi tersebut. Hanya saja, layanan gratis ini sangat jauh berbeda dengan layanan berbayarnya.

Layanan gratis dari Spotify akan “mengganggu” kamu dengan iklan yang ada di antara lagu yang dimainkan. Kualitas audio yang dimainkan juga akan diturunkan menjadi 160kbps. Dengan layanan premium, kamu akan menghilangkan iklan, meningkatkan kualitas audio, dan yang kamu dapat mengakses fitur terpenting — Offline Mode, dimana kamu dapat mengunduh lagu favorit kamu dan mendengarkannya kapan saja, di mana saja.


Lebih kreatif dengan in-app purchase

Dari contoh berbagai aplikasi di atas, freemium adalah sebuah skema yang luas dan beragam. Aplikasi menjadi semakin kreatif dengan cara mereka mendapatkan keuntungan, dan kini adalah saatnya untuk menghilangkan kesalahpahaman yang kita punya terhadap in-app purchase. Sebuah aplikasi tidak perlu menjadi seperti Candy Crush untuk dapat menghasilkan keuntungan.

Tentang App Annie

App Annie menghadirkan data dan insight yang paling terpercaya untuk bisnis kamu sebagai acuan agar sukses di kancah aplikasi global. Lebih dari 700.000 anggota yang terdaftar mengandalkan App Annie untuk dapat memahami pasar aplikasi, bisnis mereka, serta berbagai kesempatan yang ada di sekitar mereka.

Perusahaan ini bermarkas di San Francisco dengan 450 karyawan yang terbagi di 15 kantor di seluruh dunia. App Annie telah menerima pendanaan hingga US$ 157 juta (sekitar Rp2,1 triliun), termasuk dari investor seperti e-ventures, Greenspring Associates, Greycroft Partners, IDG Capital Partners, Institutional Venture Partners dan Sequoia Capital.

The post Monetisasi Netflix, LINE, Clash of Clans: Tak Serupa Tapi Sama appeared first on Informasi Update Teknologi.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *