Mewaspadai Gerakan Islamisme Tanpa Jiwa Islam Moderat

0
38
DISKUSI BUKU: Tedi Kholiludin salah satu narasumber menyampaikan paparan tentang buku Islam dan Islamisme, di auditorium UIN Walisongo, Kamis (29/9).(kecirit.com/Zakki Amali)

DISKUSI BUKU: Tedi Kholiludin salah satu narasumber menyampaikan paparan tentang buku Islam dan Islamisme, di auditorium UIN Walisongo, Kamis (29/9).(kecirit.com/Zakki Amali)

SEMARANG, kecirit.com – Masyarakat diminta mewaspadai gerakan Islam tetapi tidak memiliki jiwa Islam. Gerakan tersebut memiliki cita-cita mendirikan negara Islam. Di Timur Tengah, gerakan tersebut menamakan diri ISIS. Gerakan tersebut mempolitisasi Islam dalam segala hal.

Gerakan tersebut mengancam keutuhan Indonesia karena tidak setuju tidak setuju dengan sistem demokrasi. Di sisi lain, kemajemukan bangsa, agama yang banyak dan beragam etnis tidak sesuai dengan konsep negara Islam yang hanya menganut satu asas dan antikeragaman.

Haidar Bagir, dari organisasi Gerakan Islam Cinta mengatakan hal itu dalam bedah buku Islam dan Islamisme karya Bassam Tibi yang diterbitkan Mizan kali pertama pada bulan Agustus, di auditorium UIN Walisongo, Kamis (29/9). Haidar mengatakan gerakan tersebut di Indonesia telah ada.

“Gerakan islamisme ini seolah-olah setuju dengan demokrasi, tapi hanya instrumental. Istilahnya demokrasi kotak suara. Tapi mereka tetap ingin adanya negeri Islam di Indonesia,” ujarnya.

Haidar menambahkan, dalam praktiknya, gerakan Islamisme di Timur Tengah telah menunukkan jihad yang salah. Jihad diartikan sebagai pembunuhan. Setiap orang yang tidak sepaham dengan Islam disebut kafir dan sah untuk dibunuh.

“Dalam buku ini dikenal istilah totalitarian. Penulis buku ini menunjukkan gerakan Islamisme ini menganut paham totalitarian yang menjadikan Islam segala-galanya. Ini aneh, karena penerapannya seolah-olah untuk semua hal. Padahal ada batas-batasnya,” katanya.

Dijelaskannya, penulis buku itu mengartikan syariat Islam atau aturan Islam sebagai panduan moral dan panduan muamalat (perdata). Hal ini berbeda dengan gerakan islamisme yang menjadikannya sebagai panduan hukum pidana (hudud).

Dosen UIN Walisongo, Dr Tedi Kholiludin mengatakan, buku tersebut mengkritik ideologi gerakan islamisme yang ada di Timur Tengah dan Indonesia. Ideologi Islam di Indonesia yang moderat, katanya, mampu membendung gerakan Islamisme.

“Kebangkitan gerakan Islam moderat berasal dari Indonesia. Indonesia itu negara pinggiran dalam percaturan kemunculan agama Islam. Trennya dari pinggir ini akan ke tengah. Ke panggung dunia. Ini mulai terlihat dari penulis buku asal Jerman yang mengulik konsep Islam Indonesia,” ungkapnya.

Dalam buku tersebut tersaji 10 bagian yakni Mengapa Islamisme Bukanlah Islam, Islamisme dan Tatanan Politik, Islamisme dan Antisemitisme, Islamisme dan Demokrasi dan Islamisme dan Kekerasan: Kekacauan (Disorder) Dunia Baru.

Kemudian Islamisme dan Hukum: Syariatisasi sebagai Suatu Penemuan Tradisi, Islamisme, Kemurnian dan Autentesitas, Islamisme dan Totalitarianisme dan Islam Sipil sebagai Alternatif bagi Islamisme.
(Zakki Amali/CN41/RED_KECIRIT NEWS UPDATE)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here