Melon Wonogiri Tembus Pasar Singapura

by
MEMANEN MELON: Bupati Wonogiri, Joko 'Jekek' Sutopo memanen melon di Desa Sendangagung, Kecamatan Giriwoyo, Jumat (21/10).(kecirit.com/Khalid Yogi)

MEMANEN MELON: Bupati Wonogiri, Joko ‘Jekek’ Sutopo memanen melon di Desa Sendangagung, Kecamatan Giriwoyo, Jumat (21/10).(kecirit.com/Khalid Yogi)

WONOGIRI, kecirit.com – Kelompok petani melon Gajah Mungkur, Kabupaten Wonogiri mampu memproduksi melon berkualitas ekspor. Mereka memproduksi melon berdaging oranye yang renyah dan manis. Untuk memasuki pasar ekspor, melon tersebut harus mencapai skala kemanisan di atas 12 briks.

Suwardi, ketua kelompok tani melon Gajahmungkur, Kabupaten Wonogiri mengatakan, areal pertanian melon yang dikelola kelompok tersebut kini mencapai 36 hektare. Adapun yang sedang berproduksi saat ini mencapai 20 hektare.

Dengan mengatur pola tanam, para petani itu bisa panen setiap pekan. “Target produksi melon kami sebenarnya 10 ton setiap minggu. Tetapi, sekarang hanya tercapai sekitar delapan ton per minggu,” katanya saat mengikuti kunjungan kerja Bupati Wonogiri dalam rangka panen melon di Desa Sendangagung, Kecamatan Giriwoyo, Jumat (21/10).

Produksi di bawah target itu disebabkan curah hujan yang terlalu tinggi dengan kadar asam yang tinggi pula.

Produk dari kelompok tani melon Gajahmungkur itu dikirim ke Jakarta dan Singapura. Dari tangan petani, harganya mencapai Rp 8.000 per kilogram. Melon kualitas ekspor atau grade A adalah melon yang beratnya 1,8-2,5 kilogram dan tidak ada cacat atau bekas luka. Skala kemanisan melon Wonogiri rata-rata masih di atas 12 briks.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Dispertan TPH) Wonogiri, Safuan memaparkan, areal pertanian melon di seluruh Kabupaten Wonogiri mencapai 115 hektare. Produktivitas rata-ratanya mencapai 20 ton per hektare. “Jika harganya mencapai Rp 8.000 per kilogram, berarti perputaran uang dari komoditi melon bisa miliaran rupiah,” katanya.

Bupati Wonogiri, Joko ‘Jekek’ Sutopo mengatakan, petani menjadi luar biasa apabila mereka berani berinovasi. Dengan cara itu, kesejahteraan petani bisa meningkat. “Petani berani berinovasi, sehingga sawah tidak hanya ditanami padi, padi, dan pantun (padi). Itu luar biasa,” katanya.
(Khalid Yogi/CN41/RED_KECIRIT NEWS UPDATE)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *