Mantan Manager Persis Terancam Penjara Enam Tahun

by

pemalsuan ttdSOLO,kecirit.com – Mantan manager Persis Solo, Waseso yang menjadi terdakwa kasus pemalsuan tanda tangan sebanyak 18 kali hingga dapat membobol uang di bank UOB Solo sebanyak Rp 21, 6 miliar mulai disidang di Pengadilan Negeri (PN) Surakarta, Kamis (20/10).

Pimpinan Biro Teknik Listrik (BTL) PT Mataram tersebut oleh jaksa penuntut umum (JPU), Tomy Aryanto SH MH, didakwa primer menggunakan pasal 263 KUHP ayat 1 junto pasal 64 KUHP ayat 1. Adapun pasal skunder, terdakwa didakwa dengan pasal 263 ayat 2 junto pasal 64 KUHP ayat 1. Sesuai pasal yang didakwakan JPU tersebut, ancaman hukuman bagi terdakwa hingga enam tahun penjara.

Surat dakwaan bagi terdakwa yang dibacakan JPU juga mengungkap bahwa 18 tanda tangan yang dipalsukan terdakwa, berdasar uji laboratorium kriminal (Labkrim) Mabes Polri cabang Jawa Tengah, hasilnya non identik atau berbeda dengan tanda tangan Roestina Cahyo Dewi sebagai pemilik tabungan di bank UOB Jalan Urip Soemohardjo, Jebres, Solo.

Usai jaksa membacakan dakwaan, Ketua Majelis Hakim Torowa Daeli SH MH memberikan kesempatan bagi terdakwa untuk menyampaikan keberatan atas dakwaan jaksa. Pada kesempatan itu, Waseso menyatakan keberatan pada isian laporan keuangan.

Namun oleh Ketua Majelis Hakim, Torowa Daeli SH, keberatan tersebut bisa disampaikan dalam eksepsi melalui pengacaranya, dalam sidang berikutnya yang dilaksanakan pada Senin (24/10).

Sikap Waseso saat berkomunikasi dengan keluarganya tanpa meminta izin majelis hakim membuat Ketua Majelis, bersikap tegas yakni memerintahkan JPU meminta bantuan pengamanan dari kepolisian untuk mengamankan jalannya sidang.

”Kami perintahkan jaksa untuk meminta bantuan pengamanan dari kepolisian empat hingga enam personel,” tegas Ketua Majelis, Torowa Daeli yang juga sebagai Ketua PN Surakarta yang baru.

Permintaan pengamanan oleh Ketua Majelis itu sehubungan proses sidang dihadiri puluhan pengunjung yang mengenakan seragam BTL PT Mataram dalam memberi dukungan kepada pimpinannya, Waseso yang tengah menjalani sidang.

Usai sidang, penasehat hukum Waseso, Hengki Wicaksana SH mengemukakan dalil dakwaan jaksa salah, karena kurang lengkap menghimpun data hanya secara parsial, tidak menyeluruh dan tidak komprehensif. Pasalnya, rekening bersama yang dibuat atas nama Roestina Cahyo Dewi dan kliennya tunduk pada otoritas moneter yakni mengacu Surat Edaran (SE) Bank Indonesia.

Dalam aturan SE Bank Indonesia terkait pembuatan rekening bersama tentunya ditanggung bersama atau ditanggung renteng. Nah dalam kasus ini Restina Cahyo Dewi membebankan hanya pada kliennya.

”Seharusnya JPU dalam dakwaannya menggunakan SE Bank Indonesia yang mengatur tentang giro bilyet, bukan mendakwa klien saya memalsukan tanda tangan,” jelas Hengky dalam penjelasannya.

(Sri Hartanto/CN39/SM Network)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *