Malam Suro Di Gunung Kawi

by
kecirit.com-malam-suro-gunung-kawi-Kirab-1-Suro

kecirit.com – Peringatan 1 Suro di wisata ritual Gunung kawi diselenggarakan hingga 12 hari yang diisi dengan berbagai kegiatan. Namun puncak acara justru di lakukan dibagian awal dengan penyelenggaraan Kirab (karnaval) yang diyakininya sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat sekitar Gunung Kawi atas berkah dan nikmat yang selama ini di terimanya.

MALANG (SPNews) – Sebagai satu-satunya andalan wisata ritual di Kabupaten malang, Gunung Kawi kini terus berbenah diri dengan menjaga sekaligus melestarikan adat dan budaya etnis Jawa yang diyakininya sebagai tuntunan hidup dalam bermasyarakat.

Acara kirab (karnaval) 1 Suro merupakan acara puncak peringatan karena merupakan hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura atau Suro di mana bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender hijriyah, karena Kalender jawa yang diterbitkan Sultan Agung mengacu penanggalan Hijriyah (Islam).

Namun oleh masyarakat sekitar wisata ritual Gunung Kawi.justru digunakan sebagai alat persatuan dan kesatuan antar umat dan etnis, karena selalu berhasil mendatangkan wisatawan local dan internasional dengan jumlah ribuan lantaran acara yang gelar tergolong unik dan menarik.

“seluruh rangkaian cara yang telah dijadwal dari panitia penyelenggara merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat sekitar Gunung Kawi atas berkah dan nikmat yang diterimanya selama ini, karena mayoritas kehidupannya hanya mengandalkan kedatangan para wisatawan yang berkunjung,” ucap Kuswanto SH Kepala Desa Wonosari.

Kuswanto juga menegaskan bahwa peringatan 1 suro akan tetap menjadi peristiwa yang paling ditunggu-tunggu, karena merupakan acara ritual paling besar yang dilakukan oleh masyarakat sekitar Gunung Kawi dalam setiap tahun sehingga kemasan acaranya terus dilakukan inovasi namun tetap tidak keluar dari pakem (aturan).

“semakin tahun, kemasan acara gebyar 1 suro di Gunung Kawi terus dilakukan inovasi agar dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung, namun tetap masih memegang teguh pakemnya (aturan), sehingga kami menyajikan kirab yang menggambarkan keberadaan multi etnis meski 1 suro bertepatan dengan I muharamnya umat Islam,” tegas tokoh desa Wonosari yang telah terpilih menjadi kepala desa selama 2 periode berturut-turut ini.

Untuk diketahui, 1 Suro biasanya diperingati pada malam hari setelah magrib pada hari sebelum tangal satu biasanya disebut malam satu suro, hal ini karena pergantian hari Jawa dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebelumnya, bukan pada tengah malam.

Satu Suro memiliki banyak pandangan dalam masyarakat Jawa, hari ini dianggap kramat terlebih bila jatuh pada jumat legi. Untuk sebagian masyarakat pada malam satu suro dilarang untuk ke mana-mana kecuali untuk berdoa ataupun melakukan ibadah lain.

Tradisi saat malam satu suro bermacam-macam tergantung dari daerah mana memandang hal ini, sebagai contoh Tapa Bisu, atau mengunci mulut yaitu tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini. Yang dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri, berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh, menghadapi tahun baru di esok paginya. (q cox)