Kerusakan Lingkungan atau Destinasi Wisata?

by

FENOMENA kemunculan Danau Beko di Desa Jatilaba, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal menjadi pembicaraan hangat masyarakat.

Tidak disangka bahwa kerusakan lingkungan akibat penambangan galian C menjadi destinasi wisata baru. Namun, keindahan alam bekas bukit kapur itu telah memakan korban jiwa. Cekungan bekas galian C menarik perhatian masyarakat luas sejak musim hujan. Cekungan itu terisi air sehingga terlihat seperti danau.

Keindahan akibat kerusakan alam tersebut semakin lengkap dengan banyaknya gundukan batu kapur yang berwarna-warni. Perpaduan gundukan batu dengan cekungan yang terisi air, meminculkan pemandangan indah yang kini mulai ramai didatangi wisatawan. Berbekal informasi dari mulut ke mulut, bekas penambangan yang digunakan sebagai urukan Jalan Tol Transjawa itu menjelma menjadi wisata baru yang dikenal dengan Danau Beko.

”Dikatakan Danau Beko karena danau itu terbentuk dari kerukan alat berat yang dikenal masyarakat Tegal dengan sebutan beko atau back hoe,” kata warga Desa Karangdawa, Husni Iskandar, kemarin. Danau dengan luas sekitar lima hektare itu berada di perbatasan Desa Karangdawa dengan Jatilaba. Korban tiga orang meninggal dunia akibat tenggelam di Danau Beko berasal dari Desa Karangdawa.

Fenomena kemunculan Danau Beko memang menjadi perhatian masyarakat, karena pemandangan alamnya sangat indah. Hampir setiap akhir pekan ada sekitar puluhan masyarakat yang mengunjungi danau itu. ”Kendati sangat indah, tapi juga sangat berbahaya. Kedalaman air di danau itu mencapai 12 meter. Makanya, jika tidak berhati-hati bisa tenggelam,” kata Husni yang juga ketua Fraksi PPP DPRD Kabupaten Tegal itu.

Faktor Mistis

Dia sejak belum adanya korban tenggelam telah meminta kepada pemerintah untuk mereklamasi danau itu. Dia juga menilai bahwa danau itu mencul karena kerusakan alam, sehingga harus menjadi tanggung jawab pemilik penambangan. Pihaknya tidak mempersoalkan jika kerusakan tersebut dijadikan destinasi wisata.

”Harus dilakukan pembenahan dan itu jadi tanggung jawab penambang,” tegasnya. Tenggelamnya anak-anak yang berenang di Danau Beko, memunculkan penyebab yang berbeda-beda. Dari mulai dari faktor mistis hingga tidak adanya pengaman di lokasi danau itu.

Disinyalir, konon anak-anak itu menjadi tumbal para penunggu makhluk halus di bekas galian tersebut. Namun banyak yang menduga karena anak-anak terlalu lama bermain dan mengalami kram kaki, sehingga tidak bisa berenang. Kades Jatilaba Jumadi menegaskan, bekas galian C itu ramai di kunjungi saat musim hujan, karena saat musim kemarau tidak ada airnya.

Kerusakan alam tersebut masih menjadi kewenangan penambang untuk mereklamasi. Terkait dengan banyaknya korban tenggelam, dimungkinkan karena kelalaian anak-anak dalam berenang di lokasi itu. Padahal, pihaknya sudah memasang papan larangan untuk berenang. ”Jika reklamasi dilakukan penambang, maka tidak ada korban jiwa,” tandasnya. (Dwi Putro GD-58)

loading...