Industri Padat Karya Jadi Prioritas

by
PRODUKSI PONSEL: Seorang karyawan sedang memproduksi ponsel di sebuah pabrik di Kudus. (kecirit.com/Fista Novianti)

PRODUKSI PONSEL: Seorang karyawan sedang memproduksi ponsel di sebuah pabrik di Kudus. (kecirit.com/Fista Novianti)

SEMARANG, kecirit.com – Industri padat karya masih menjadi prioritas masuknya iklim investasi di Jawa Tengah. Industri ini dinilai mampu menyerap tenaga kerja yang besar dan menyumbang sepertiga pertumbuhan industri di Tanah Air.

“Industri padat karya masih menjadi prioritas masuknya investasi di Jateng. Sebab, industri ini mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat dan menyumbang pertumbuhan perekonomian daerah,” tutur Kepala Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD) Jawa Tengah Sujarwanto Dwiatmoko, Jumat (21/10).

Sujarwanto menuturkan, sektor industri yang masuk ke wilayahnya selama ini masih didominasi industri padat karya. Antara lain, industri tekstil dan produk tekstil, otomotif, industri kayu, dan telekomunikasi. Lokasinya seperti di Semarang dan sekitarnya yaitu Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga, Wonogiri, Jepara, Boyolali, Sragen dan masih banyak lagi. Pengusaha mengincar lokasi yang yang prospektif untuk mendirikan usaha. Iklim investasi yang nyaman, tata ruang yang baik menjadi faktor pendorong pengusaha membuka pabrik baru di wilayah tersebut.

Kendati orientasi masih industri padat karya, pihaknya berharap investor yang masuk mulai mengarah ke industri padat teknologi dan mengarah pada subtitusi impor. Hal itu dilakukan untuk mengurangi impor yang menyebabkan daya saing industri. Beberapa produk untuk subtitusi impor salah satunya adalah suku cadang mobil impor dan sepeda motor. Selain itu, juga banyak industri yang mengolah sumber daya alam.

Tercatat, realisasi nilai investasi Jateng hingga triwulan III tahun ini mencapai Rp 25 triliun atau 90% dari target penerimaan tahun ini. Dari angka itu, nilai investasi terbanyak justru berasal dari perusahaan luar negeri yang membenamkan modalnya di wilayah ini. Perusahaan luar negeri sebesar Rp 15 triliun dan dalam negeri di angka Rp 10 triliun.

Dikatakannya, investor dari luar negeri banyak tertarik dengan ketersedian lahan dan tenaga kerja asal Jateng. Sebagian besar dari mereka mencari lokasi sesuai dengan kebutuhan perusahaan atau berdekatan dengan sumber bahan baku maupun kelengkapan sarana transportasi.

Sujarwanto meyakini realisasi investasi akan tercapai di tahun ini. Oleh sebab itu, ia berharap kepada kepala daerah untuk mempermudah proses perizinan dan memberikan kepastian keamanan dan kenyamanan bagi dunia usaha. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendorong iklim investasi. (Fista Novianti/CN38/SM Network)