Identifikasi Wilayah Bencana Efektif dengan Foto Citra Satelit

0
37
PEMBERSIHAN AIR SUNGAI: Sejumlah relawan BPBD, serta unsur masyarakat melakukan pembersihan air Sungai Golantepus, Kecamatan Mejobo Kudus. (suarameredka.com/Ruli Aditio)

PEMBERSIHAN AIR SUNGAI: Sejumlah relawan BPBD, serta unsur masyarakat melakukan pembersihan air Sungai Golantepus, Kecamatan Mejobo Kudus. (suarameredka.com/Ruli Aditio)

KUDUS, kecirit.com – Dari hasil kajian dokumentasi wilayah potensi bencana dengan menggunakan foto citra satelit yang sudah dilakukan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) pusat yang dilakukan dua tahun dengan menggunakan pesawat Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau tanpa awak dihasilkan, adanya beberapa titik wilayah Kabupaten Kudus yang masih berpotensi terjadi bencana baik banjir maupun longsor.

“Pada prinsipnya foto citra satelit cukup efektif untuk mengidentifikasi kondisi wilayah, utamanya yang berkaitan dengan bencana alam,” Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kudus, Sudjatmiko melalui Sekretaris Dinas, Sulistyowati dalam kegiatan pembahasan penanggulangan risiko bencana alam di Kudus, Jumat (30/9).

Ia juga menjelaskan potensi bencana banjir menurutnya di Kabupaten Kudus masih menempati posisi pertama dikarenakan intensitasnya tinggi hampir setiap tahun. Ia juga menuturkan, dalam kegiatan pembahasan tersebut bahwa, foto citra satelit yang berhasil mendokumentasikan serta mengidentifikasi wilayah Kudus dapat diambil kesimpulan penyebab terjadinya banjr selama ini adalah yang pertama adalah curah hujan tinggi sehingga meningkatkan pula debit air di seluruh saluran air di Kudus.

“Ironisnya saluran air tersebut sebagian besar ada sedimentasi yang mengendap sehingga membuat dangkal yang pada akhirnya membuat limpas air,” paparnya.

Kedua, wilayah resapan atau daerah tangkapan air telah beralih fungsi dengan dalih untuk pengembangan ekonomi, dan ketiga adalah karena faktor banjir kiriman dari wilayah timur. “Ini dikarenakan bendungan Kedungombo dibuka karena tidak mampu menampung jutaan debit air, sehingga dampaknya lari ke sebagian wilayah Kudus tergenang,” jelasnya.

Disisi lain manfaat dari foto citra satelit tersebut adalah untuk evaluasi terkait dengan siklus lima tahunan, apakah ada fenomena baru terhadap bencana alam banjir atau longsor yang terjadi di Kudus. “Hal ini tentunya sekaligus bermanfat untuk melakukan identifikasi ulang, wilayah mana saja yang berpotensi bencana,” katanya.

Misalnya saja di wilayah Kecamatan Mejobo, ada salah satu desa yang memiliki potensi banjir setiap tahunnya. Tentunya identifikasinya harus spesifik, sesuai dengan hasil foto citra satelit. “Satu desa yang banjir sebenarnya hanya separuh desa, atau mungkin hanya satu RT. Namun terkadang laporan yang kami terima disampaikan seluruh desa. Tentunya ini tidak tepat karena hal ini berkaitan dengan penanggulangan korban bencana termasuk evakuasi,” terangnya. (Ruli Aditio/CN38/SM Network)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here