HIMKI Pecah, Asmindo Tarik Diri

by

SOLO – Baru lima bulan terbentuk, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Pusat pecah.

Lantaran merasa kepentingannya tidak terakomodasi, Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) menarik diri dari penggabungan himpunan tersebut. Penarikan Asmindo dari HIMKI yang diambil dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) 2016 Asmindo di Hotel Adhiwangsa Solo, Rabu (27/10), bersamaan dengan Rapimnas HIMKI yang digelar di Lorin Solo Hotel. ’’Kalau kita melihat semangat dan asas penggabungan dua asosiasi antara Asmindo dan Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) menjadi HIMKI sebelumnya adalah kesetaraan, kebersamaan dan keadilan. Tapi ternyata dalam perjalanannya, banyak kebijakan HIMKI justru abai terhadap tiga azas tersebut,’’ kata David R Wijaya yang ditunjuk sebagai Ketua Tim Caretaker Asmindo.

Dalam Rapimnas Asmindo bertajuk ’’Konsolidasi Organisasi Membangun Kebersamaan dalam Kesetaraan Untuk Kemanfaatan Anggota’’ itu, mayoritas pengurus lama Asmindo yang sebelumnya telah membubarkan diri itu sepakat untuk keluar dari HIMKI. Menurut David, keputusan penarikan dari penggabungan didasarkan pada banyak hal.

Di antaranya, dari 24 Komisariat Daerah (Komda) Asmindo secara nasional hanya sembilan yang diakomodasi dalam kepengurusan HIMKI, selebihnya tidak jelas nasibnya. Belum lagi persoalan bisnis permebelan, seperti Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) yang hingga kini belum rampung. ’’Secara prinsip Asmindo sangat mendorong untuk diberlakukan, tapi justru HIMKI menolak,’’ katanya.

Azas Kesetaraan

Slamet Raharjo, anggota tim caretaker lainnya menambahkan, sebenarnya Asmindo tidak anti pada penggabungan, asal azas kesetaraan, keadilan dan kebersamaan dijalankan dengan baik di lembaga yang baru. Tapi karena pola pengelolaan organisasi di HIMKI selama ini tidak seperti yang diharapkan, akhirnya semua pengurus Asmindo sepakat untuk keluar dari penggabungan. ‘’Melalui Rapimnas ini, kami ingin menata ulang Asmindo. Dari 24 komda di Indonesia, 19 komda hadir dan sepakat membangun kembali Asmindo kembali,’’ pungkasnya.

Sementara itu, sejumlah tokoh industri permebelan, mantan ketua dan pengurus Asmindo Solo, serta penggagas dan pengurus HIMKI Pusat dan HIMKI Solo seperti Adi Dharma Santosa, Yanti Rukmana, dan Irawan menyayangkan ’’ penggembosan’’ HIMKI ketika dihubungi secara terpisah. Apalagi hal itu dilakukan di Solo, di mana pembentukan HIMKI juga digagas. ’’HIMKI itu organisasi yang masih muda, baru lima bulan, jadi wajar kalau masih bolongbolong. Nah, itu tugas kita untuk menambal yang bolong-bolong itu,’’ kata Irawan, salah seorang Wakil Ketua HIMKI Solo.

Hal senada dikatakan Ketua HIMKI Solo, Adi Dharma Santosa. Dikatakan, manuver sekelompok orang yang menyatakan diri keluar dari Himki dan akan menghidupkan lagi Asmindo tidak mempengaruhi organisasi di Solo. ’’HIMKI Solo tetap solid, tetap rukun, dan tidak terpengaruh yang begitu-begitu,’’ kata Adi. Terpisah,Wakil Ketua Umum HIMKI Pusat, Abdul Sobur juga mengaku prihatin dengan aksi sepihak itu. Apalagi HIMKI adalah lembaga baru bagi para pelaku industri mebel dan kerajinan kayu hasil penggabungan Asmindo dan Amkri itu atas permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Tujuannya, agar asosiasi semakin kuat, terutama dalam menghadapi pasar mebel dunia. ’’Organisasi perdagangan dunia saja mulai bersatu, seperti Uni Eropa, WTO, AFTA, MEA, tapi organisasi di dalam negeri yang sudah disatukan malah dipecah. Kalau ada permasalahan mestinya dirembuk, bukan mengambil cara-cara seperti itu,’’ kata dia.

Lebih lanjut Sobur mengatakan, sebelum deklarasi pembentukan HIMKI di Jakarta, 31 Mei, Asmindo dan AMKRI masing- masing membubarkan diri dan melebur menjadi satu asosiasi. ’’Kalau kemudian ada pihakpihak yang menghidupkan lagi asosiasinya, itu hak mereka,’’kata dia. (G8-68)