Grebeg Besar Cacaban Diramaikan Sendratari “Babad Merti Kademangan Cacaban”

0
34
SENDRATARI: Anak-anak muda Kelurahan Cacaban kompak menampilkan Sendratari Babad Merti Kademangan Cacaban dalam Grebeg Besar Cacaban tahun 2016. (kecirit.com/Asef Amani)

SENDRATARI: Anak-anak muda Kelurahan Cacaban kompak menampilkan Sendratari Babad Merti Kademangan Cacaban dalam Grebeg Besar Cacaban tahun 2016. (kecirit.com/Asef Amani)

MAGELANG, kecirit.com – Warga Kelurahan Cacaban, Kota Magelang kembali merayakan Nyadran/Merti Desa di bulan besar pada penanggalan Jawa atau Dzulhijjah pada kalender hijriah. Tahun ini ada yang beda dari tahun sebelumnya, yakni ditampilkannya Sendratari “Babad Merti Kademangan Cacaban”.

Bertempat di Lapangan Kwarasan, Kamis (29/9), puluhan penari kompak membawakan drama tari yang menceritakan awal mula dilaksanakannya nyadran Kelurahan Cacaban itu. Mereka berasal dari anak-anak muda setempat dan mayoritas masih bersekolah dari SMP hingga SMA.

Lurah Cacaban, Praditya Dedy mengatakan, awal mulanya wilayah Cacaban merupakan daerah yang subur makmur loh jinawi. Tapi, kemudian terjadi “pagebluk” yang mengakibatkan kesengsaraan dari tanah tidak subur, ternak pada mati, hingga banyak terjadi penyakit. “Kemudian Ki Demang Cacaban saat itu mengajak warga masyarakat untuk berdoa pada Allah SWT agar pagebluk berakhir. Dalam sendratari, perwujudan pagebluk ditandai dengan gambaran iblis (sukerto, red), sedangkan penyelamat adalah satria,” ujarnya di sela acara.

Dalam Sendratari, satria dan sukerto kemudian berkelahi yang dimenangkan oleh satria. Sebagai ungkap syukur, Ki Demang Cacaban kemudian mengeluarkan dua buah gunungan (jalustri) dan dua ekor kambing hewan kurban. “Gunungan dan kambing ini dikirab dan disemayamkan di makam Kyai Tuk Songo, pendiri Cacaban. Esok harinya gunungan digrebeg dan kambing dipotong untuk dibuat gule. Semua ini terangkum dalam Grebeg Besar Cacaban yang kami adakan setiap tahun,” katanya.

Selain Sendratari, katanya, ditampilkan juga para bergodo yang berasal dari perwakilan 12 RW. Mereka berdandan aneka warna dari berpakaian ala tokoh wayang, prajurit, hingga pakaian adat Jawa. Mereka antusias mengikuti kirab yang juga dihadiri Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito. “Kirab ini dilombakan untuk memberi semangat warga. Terpenting dari ini sebenarnya adalah kami ingin lebih meningkatkan lagi guyub masyarakat, sekaligus nguri-nguri kebudayaan. Kita ciptakan kondisi aman dan nyaman di lingkungan Cacaban dengan keterlibatan semua warga,” paparnya.

Senada diungkapkan Camat Magelang Selatan, Triyanto Sutrisno bahwa, adanya Grebeg Besar Cacaban menandakan masyarakat guyub dan rukun. Pihaknya sangat mendukung pagelaran seperti ini dan diharap konsisten diadakan setiap tahun. “Kita punya ikon Grebeg Gethuk setiap HUT Kota Magelang. Sekarang, kita punya ikon baru, yakni Grebeg Besar Cacaban. Saya harap masyarakat makin rukun dan ke depan acara seperti ini didukung pula warga kelurahan lain,” jelasnya. (Asef Amani/CN38/SM Network)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here