Elanto Kembali Unggah Video “Praktik Korup Polisi” via YouTube

by

Dalam dua hari ini, ada tiga video yang diunggah oleh Elanto Wijoyono dan menjadi pembicaraan para nitizen di media sosial. Elanto mengakui, tiga video yang diunggah ke YouTube merupakan bentuk ajakan kepada masyarakat untuk berani kritis terhadap tindakan koruptif pejabat negara ataupun pejabat publik.
“Tujuh hari lalu, saya sudah menyuarakan dan mengajak masyarakat lewat medsos untuk berani kritis terhadap segala bentuk tindakan korupsi,” ucap Elanto Wijoyono saat dihubungi
Kompas.com , Senin (5/10/2015).
Elanto menuturkan, apa yang diunggahnya dalam video YouTube merupakan salah satu contoh bagaimana masyarakat harus kritis terhadap situasi yang ada. “Itu salah satu situasi realitas yang ada. Saya tidak bermaksud menyudutkan pihak lain,” kata dia.
Dalam video itu, dia mengaku hanya mengabadikan situasi yang ada dan mencoba mencari jawabannya. Namun, karena tidak mendapat jawaban, ia mengunggahnya di YouTube agar mendapat konfirmasi.
Sebagai bentuk pencarian jawaban, di video yang diunggah itu, ia menyertakan keterangan melalui suara dan tulisan. Semuanya dalam bentuk kalimat tanya. “Bukan untuk menuduh, tetapi untuk mencari konfirmasi dan mendorong adanya perubahan atau pembenahan sistem,” ucap dia.
Menurut dia, tindakan-tindakan koruptif yang dilakukan pejabat negara ataupun pejabat publik banyak terjadi di masyarakat. Namun, sebagian besar masyarakat diam, belum berani untuk bersikap kritis. Kalaupun ada masyarakat yang bersuara dan mendukung perubahan, mereka justru dikriminalisasi dengan penyalahgunaan UU ITE.
“Kita pasti banyak menjumpai penyalahgunaan wewenang untuk melakukan tindak koruptif. Masyarakat harus berani kritis dan mengawasi tindak koruptif yang terjadi,” kata dia.
Nama Elanto mendadak terkenal setelah mencegat iring-iringan sepeda motor gede di Yogyakarta. Terakhir, Elanto kembali mengunggah video dengan membuntuti kernet truk yang diduga mau memberikan setoran kepada sejumlah polisi di sebuah pos polisi.
Penulis: Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma
Editor: Glori K. Wadrianto