Dua Anggota TNI Diajukan ke Pengadilan Militer

by

SEMARANG- Kodam IV/Diponegoro menindak tegas anggotanya yang diduga terlibat kasus percaloan penerimaan calon prajurit TNI AD (werving).

Dua anggota yang disinyalir terlibat itu, diajukan ke Pengadilan Militer (Dilmil) II-10 Semarang untuk diproses hukum. Keduanya adalah Sertu Suratman, Bati Geografi Wanmil Sterdam IV Diponegoro dan Letda Ckm Adam Patiroi, Parbekalkes Simatkes Kesdam IV/Diponegoro. Mereka dijerat Pasal 378 KUHP tentang penipuan. Keduanya diduga melakukan penipuan terhadap pendaftar calon prajurit saat proses penerimaan Cata PK TNI AD 2015 lalu. Keduanya mengaku sanggup membantu meluluskan pendaftar menjadi prajurit dengan imbalan tertentu. Korban memberikan uang hingga puluhan juta rupiah agar lolos.

Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Jaswandi menegaskan, oknum anggota yang terlibat dalam percaloan penerimaan prajurit TNI itu akan ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku. Upaya tersebut untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa masuk TNI tidak membayar.

Bagi anggota yang terbukti terlibat diproses hukum. Ditemui di sela-sela persidangan kemarin siang, Sertu Suratman mengakui perbuatanya tersebut menyalahi aturan. Ia menyesal. Namun ditegaskannya, ia tidak pernah meminta uang hingga puluhan juta rupiah agar pendaftar lolos. Karena kenal dengan pendaftar, ia hanya ingin membantu.

Minta Dibantu

“Yang mendaftar itu anak sepupu istri saya di Kendal. Dia sudah berkali-kali gagal tes masuk TNI. Akhirnya, keluarganya berinisiatif memberikan uang ke saya. Harapannya, bisa dibantu agar lolos. Nilai uang yang diberikan Rp 80 juta,” ujar Suratman.

Suratman menuturkan, ia juga meminta tolong ke seseorang yang dipercayanya untuk membantu agar keponakannya bisa lolos. Dia seorang purnawirawan TNI AD. “Saya minta bantu purnawirawan, untuk ngurus ke dalam. Dulu, pangkat terakhirnya Serma. Saya tahu jalur itu salah. Saat ini, uang sudah dikembalikan oleh Pangdam ke sepupu saya,” tandasnya.

Hal senada disampaikan Letda Adam. Perwira pertama di jajaran Kodam IV/Diponegoro ini pun mengaku tidak pernah meminta uang hingga puluhan juta rupiah agar pendaftar bisa lolos. Ia hanya ingin mencoba membantu. Uang diberikan atas inisiatif pendaftar. “Saya punya anak. Harapannya, di kemudian hari, orang itu juga bisa bantu anak saya,” tandasnya. (K23-71)

loading...