Direkonstruksi, Kasus Penganiayaan Berujung Kematian

0
33
REKONSTRUKSI: Rekonstruksi kasus penganiayaan terhadap Nicho Rian Suseno (22) digelar Polsek Wates, Kamis (29/9).(kecirit.com/ Panuju Triangga)

REKONSTRUKSI: Rekonstruksi kasus penganiayaan terhadap Nicho Rian Suseno (22) digelar Polsek Wates, Kamis (29/9).(kecirit.com/ Panuju Triangga)

KULONPROGO, kecirit.com – Polsek Wates, Kulonprogo, menggelar rekonstruksi kasus penganiayaan terhadap Nicho Rian Suseno (22), Kamis (29/9). Kasus penganiayaan oleh dua orang bapak dan anak itu berujung pada kematian warga Clapar, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap tersebut.

Rekonstruksi digelar di Mapolsek Wates dengan melibatkan kedua tersangka, Suharno (65) dan anaknya Sapmoko (38), warga Driyan yang tinggal di Beji, Kelurahan/Kecamatan Wates. Selain itu juga dihadirkan dua orang saksi, yakni tetangga tersangka, Jemari, dan perawat yang diminta tersangka mengobati
korban, Dwi Edi. Kasus penganiayaan tersebut terjadi pada 18 Juli yang kemudian dilaporkan ke polisi 26 Juli lalu.

Kanit Reskrim Polsek Wates, Iptu Tomy Prambana mengatakan, dalam rekonstruksi diperagakan 21 adegan. Rekonstruksi dilakukan agar bisa dilihat detail yang dilakukan tersangka terhadap korban. Meski demikian, pihaknya masih mendalami hasil rekonstruksi tersebut karena proses pemeriksaan belum selesai.

Dalam rekonstruksi itu ada satu adegan yang diulang, karena dinilai ada kejanggalan. Pengulangan adegan untuk memperjelas posisi maupun ucapannya seperti apa. Adegan tersebut yakni ketika Suharno diduga menganiaya tersangka. Keterangan tersangka ternyata berbeda dengan keterangan korban saat diperiksa ketika masih hidup.

Berdasarkan keterangan korban, tersangka Suharno sempat menendang dua kali di bagian kaki hingga korban terjatuh. Sedangkan tersangka menyatakan korban terjatuh karena tersandung kakinya lantaran korban meronta-ronta ingin melepaskan diri saat dipegangi.“Itu hak tersangka maupun korban menyampaikan keterangan masing-masing, yang sebenarnya akan terlihat pada pembuktiannya di pengadilan,” kata Tomy.

Iptu Tomy menambahkan, pasal yang dikenakan pada kedua tersangka masih pasal 351 ayat 2 KUHP yakni tentang penganiayaan. Sedangkan untuk penerapan pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian masih harus menunggu hasil autopsi dari RSUP Dr Sardjito.“Sementara masih penganiayaan, karena menunggu hasil otopsi terlebih dulu yang belum keluar,” imbuhnya.

Sementara Penasehat Hukum kedua tersangka, Enji Puspo Sugondo mengatakan, untuk tersangka Suharno seharusnya belum bisa diduga sebagai pelaku penganiayaan karena dari rekonstruksi terlihat tidak ada penganiayaan yang dilakukan olehnya. Menurutnya, untuk disangkakan pasal 351 buktinya sangat kurang.

“Kami akan mengikuti proses hukum yang ada, kami akan mengupayakan maksimal di persidangan dengan saksi-saksi dan fakta-fakta yang ada di lapangan,” tuturnya.

Enji menambahkan, hasil autopsi dari rumah sakit belum ada. Sehingga tersangka belum bisa disangkakan penganiayaan yang menyebabkan kematian. Selain itu ada selang satu bulan dari waktu kejadian dengan meninggalnya korban.“Pihak korban juga pernah bermediasi dengan para tersangka di kepolisian dan saat itu kondisinya juga sehat,” imbuhnya.
(Panuju Triangga/CN40/SM Network)

 

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here