Beri Keterampilan Membatik

by
SM/Budi Setyawan

SM/Budi Setyawan

BAGI Heru Santoso (48), awal terjun ke dunia usaha batik tidak terlepas dari kiprah orang tuanya yang tidak lain merupakan pengusaha batik di wilayah Sokaraja. ”Orang tua saya punya usaha batik, sekitar 1970-an saya diminta untuk meneruskan usahanya, sebab waktu itu orang tua sudah berusia lanjut.

Lantaran saya anak yang pertama dari tiga bersaudara, akhirnya saya pun bersedia,” kata suami dari Kustiyaningsih ini, kemarin. Sejak diberi amanat meneruskan usaha itu, ia memiliki niat ingin melestarikan batik Banyumasan. Apalagi sejak 2009 lalu, UNESCO telah mengukuhkan seni kerajinan batik sebagai warisan budaya Indonesia, maka semangatnya untuk melestarikan semakin kuat.

”Adanya pengukuhan dari organisasi tingkat dunia itu merupakan sebuah kebanggaan, sehingga sebagai Bangsa Indonesia harus mampu melestarikan. Hal ini pula yang menambah motivasi bagi saya untuk terus melestarikan batik dan memberikan pelatihan bagi generasi muda, khususnya pelajar dan masyarakat luas,” terang ayah tiga anak tersebut.

Dia menjelaskan, bila dibandingkan dengan jenis batik-batik lain yang ada di Indonesia, batik Banyumas memiliki kekhasan tersendiri. ”Batik Banyumas itu yang menonjol adalah pada warna.

Biasanya perpaduan antara warna hitam dan cokelat. Kemudian dari segi motif, lebih banyak berupa motif tumbuhan dan hewan,” ungkap guru batik SMA1 Sokaraja tersebut. Menurut dia, sebenarnya ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, agar batik Banyumas lebih dikenal masyarakat luas dan tetap lestari pada saat sekarang.

Di antaranya dengan mendorong generasi muda untuk belajar membuat batik dan mendorong masyarakat agar menyukai batik produk khas Banyumas. ”Bila kedua langkah itu dilakukan, saya yakin keberadaan batik Banyumas bisa eksis di tengahtengah masyarakat sampai sekarang,” terang pria kelahiran Banyumas, 13 Juni 1968 tersebut.

Keterampilan

Upaya mendorong generasi muda, khususnya kalangan pelajar untuk membuat kerajinan batik sudah dilakukan, yakni dengan memberikan bekal keterampilan kepada mereka. Dengan demikian, diharapkan mereka dapat menjadi ujung tombak dalam pelestarian batik. ”Langkah ini sudah dilaksanakan di SMA Sokaraja, di mana para siswa di sekolah tersebut kami latih memproduksi batik Banyumas, mulai dari pembuatan pola sampai pewarnaan.

Setelah mereka menguasai teknik, diharapkan mereka bisa memproduksi sendiri, sehingga akan berguna bagi mereka setelah lulus sekolah,” terang pemilik batik merk “R” itu. Kemudian upaya untuk melestarikan batik Banyumas dapat dilakukan dengan mendorong masyarakat agar menyukai produk tersebut.

Hal ini dapat dilakukan dengan mengenakan pakaian batik. ”Langkah itu akan semakin berhasil, manakala ada kemauan dari pemerintah daerah untuk mewajibkan kalangan pegawai negeri sipil (PNS) untuk mengenakan seragam batik Banyumas dan sekarang sudah berjalan,” terang laki-laki yang sering menjadi tutor pelatihan batik tersebut. (Budi Setyawan-14)

loading...