Baznas Perbaiki Rumah Warga Miskin

by

KANGKUNG -BadanAmil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Kendal, memperbaiki rumah yang hampir roboh, milik Surip warga RT 5 RW1, Desa Kaliyoso, Kecamatan Kangkung. Perbaikan rumah berukuran 4,5 meter x 9 meter itu, merupakan bentuk kepedulian kepada warga miskin. Perbaikan dilakukan warga dibantu TNI dan Polri. Sekitar 70 orang bekerja sama membangun rumah yang sudah tidak layah huni tersebut.

Ketua Baznas Kendal, KH Ubaidilah, mengatakan usulan perbaikan rumah itu sebelumnya disampaikan pemerintah desa. Adapun syarat utama, yaitu rumah tersebut milik sendiri dan pemilik masuk dalam golongan warga miskin. Program bedah rumah dari Baznas Kendal, akan dilakukan merata di semua kecamatan. Dalam satu tahun, setiap kecamatan, minimal terdapat satu rumah yang dibedah. Ini program pertama bedah rumah dari Baznas dan akan terus berjalan sesuai anggaran,” kata dia, Rabu (26/10). ”

Bantuan perbaikan rumah tidak layak huni besarnya Rp 10 juta per rumah, diwujudkan dalam bentuk bahan bangunan. Tahun ini, dua rumah yang diperbaiki, yakni di Desa Kaliyoso, Kangkung dan Desa Surokontokulon, Pageruyung. Sumber dana dari infaq yang terkumpul di Baznas Kendal selama 2015,” tutur dia.

Program Unggulan

Dia menerangkan, program itu rumah merupakan salah satu dari lima program unggulan Baznas Kendal. Program pertama adalah Kendal Makmur, meliputi program pemberian pinjaman tanpa bunga dan pengembangan UMKM. Program kedua adalah Kendal Cerdas berupa pemberian beasiswa pendidikan siswa SD-SMP, santri, pembinaan guru ngaji dan imam masjid serta pelatihan SDM.

Program ketiga adalah Kendal Sehat, berupa bantuan pengobatan, bakti sosial, penyuluhan kesehatan dan tanggap gizi buruk. Kendal Taqwa merupakan program keempat, meliputi kegiatan syiar memperingati hari besar Islam. Program terakhir adalah Kendal Peduli, yakni bantuan rehab rumah tidak layak Huni, tanggap darurat bencana dan bakti sosial.

Pj Kepala Desa Kaliyoso, Bimasyudi Dasuki, mengatakan, Surip hanya tinggal bersama sang istri bernama Sulati. Rumah mereka dibongkar dan dibangun kembali menjadi berdinding batako. Kekurangan matrial akan dipikul bersama warga dan pemerintah desa. Suami istri itu, tidak mempunyai pekerjaan tetap.

Mereka hanya sebagai buruh jika sewaktu- waktu tenaganya dibutuhkan oleh tetangga. ”Biaya kehidupan sehari-hari mengandalkan kiriman dari anak satu-satunya yang bekerja di Malaysia,” katanya. (H36-63)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *