Anton Tabah: Mayoritas Tertangkap OTT yang Recehan

by
Foto: Hidayatullah

Foto: Hidayatullah

JAKARTA, kecirit.com – Penegasan Kapolri menyangkut pungutan liar (pungli) di kalangan prajurit Polri mendapat tanggapan serius dari mantan jenderal (purn) polisi Anton Tabah Digdoyo. Mantan kapolda Jatim itu menyatakan seharusnya petinggi Polri bijak dalam menanggapi persoalan internalnya.

“Jangan bobrok sendiri dibuka di depan umum seolah-olah bersih padahal anggota sendiri dikorbankan,” tegas Anton, Jumat (21/10).

Menurut Anton, dari 1001 anggota mungkin salah tapi jangan diekpos besar-besaran karena tidak menutup kemungkinan kesalahan itu ada dipihak atasan yang hanya terkesan menindak lanjuti perintah. “Imbasnya anggota yang jadi korban,” tuturnya di Jakarta, Jumat (21/10).

Dia juga menyatakan bahwa kebobrokan yang tadinya ada di Kementerian Perhubungan yang terkenal instansi paling korup, sekarang telah berpindah kepada institusi kepolisian yang ternyata telah menjadi institusi terkorup. “Tadinya Kementrian Perhubungan termasuk institusi terkorup, namun sudah digantikan oleh institusi kepolisian yang sekarang terkenal sebagai institusi terkorup di negeri ini,” jelas Anton.

Hal ini dibuktikan dengan pemberitaan-pemberitaan baik media cetak maupun elektronik yang selalu menayangkan tentang tindak korupsi yang dilakukan apatat penegak hukum. Polisi adalah pelayan masyarakat artinya pelayanan kepada masyarakat harus dengan senyum dan keramahan. “Polisi jangan memeras rakyat, merampok rakyat, mempersulit rakyat apabila masyarakat membutuhkan cepatlah bertindak jangan diabaikan karena masyarakat yang membutuhkan pertolongan polisi dianggap tidak mendatangkan keuntungan,” ujar dia.

Dalam sepekan terakhir, lanjutnya, dihebohkan oleh berita di berbagai media tentang Operasi Tangkap Tangan ( OTT). Namun yang mengherankan dalam berbagai berita itu tidak secara valid menyampaikan sumber beritanya, sehingga entah benar atau gurauan hampir tiap hari ada OTT dan hampir mayoritas pelakunya adalah bawahan yang notabene uang recehan. “Seburuk itukah perilaku bawahan sehingga harus dengan gencar di lakukan OTT. Bagaimana dengan atasan yang tiap bulan ada yang menerima dari banyak perusahaan,” tanya mantannajudan Presiden RI ke 2 itu.

Ibarat penyakit, lanjut dia, gencar mengobati koreng tapi lupa penyakitnya komlikasi penyakit dalam. “Banyak orang bilang ikan busuk dari kepala bukan dari ekor. Begitu juga semestinya cara kita mencegahnya ketika kepala tak mau lagi terima upeti, ketika kepala tak mau lagi di service, ketika kepala tak lagi main kolusi saya yakin dI bawah pun akan mikir seribu kali, Masihkah kita akan mempertontonkan aib institusi,” tutur dia.

“Saya yakin tak ada satu pun polisi yang tak pernah kolusi, dan bila hal ini terus gencar kita publikasikan yang paling rugi adalah institusi Polri.”

Dia pun mengajak menghentikan mempublikasikan hal-hal negatif dan buruk mengenai institusi Polri karena semakin melakukan pencitraan dengan pencapaian kinerja Polri dalam operasi tangkap tangan yang nantinya akan menjadikan institusi Polri sebagai viral dalam pemberitaan dan justru akan memperburuk citra dengan sendirinya, sehingga keburukan institusi ini akan terbuka lebar di mata dunia. (A Adib/CN38/SM Network)