7 Kerajaan Bercorak Hindu Di Indonesia

by
7 Kerajaan Bercorak Hindu Di Indonesia – Perkembangan  agama Hindu di Indonesia berawal sekitar 1500 sebelum Masehi (SM) seiring dengan kedatanagn bangsa Yunan. Bagaimana mereka sampai ke Indonesia? Mereka masuk wilayah Nusantara dengan menaikki bahtera layar. Kelompok ini tiba dari Kampuchea (Kamboja). Mereka akhirnyamendirikan rumah dan hidup berkelompok dalam masyarakat desa dan selanjutnya menetap di Nusantara.
Pengaruh anutan serta budaya Hindu terhadap budaya Indonesia begitu kuat. Bahkan, menghipnotis banyak sekali aspek kehidupan masyarakat utamanya dalam hal pemerintahan. Hal ini terlihat dengan berdirinya  beberapa kerajaan bercorak Hindu.

1. Kerajaan Kutai

Kerajaan bercorak Hindu di Indonesia yang pertaman yaitu Kerajaan Kutai .Kerajaan ini terletak di tempat Muara Kaman, di sekitar tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Kerajaan Kutai yaitu kerajaan Hindu tertua yang pernah ada di Indonesia, didirikan oleh Kudungga pada masa kala ke-4 M. Bukti berdirinya Kerajaan Kutai yaitu dengan ditemukannya yupa. Yupa merupakan tiang watu untuk mengikat  binatang korban yang akan dipersembahkan oleh para brahmana. Yupa ditulis dalam abjad Pallawa dan berbahasa Sanskerta.
 agama Hindu di Indonesia berawal sekitar  7 Kerajaan Bercorak Hindu Di Indonesia
Yupa
Berdasarkan apa yang tertulis dalam yupa, raja Hindu pertama di Kerajaan Kutai berjulukan Aswawarman. Ini sanggup dibuktikan akan gelar yang dimilikinya, yaitu wangsakerta atau pendiri keluarga kerajaan (dinasti).
Dari goresan pena yang ada pada yupa tersebut sanggup disimpulkan adanya 3 generasi. Sisilah dimulai dari Kudungga yang memperanakkan anak berjulukan Aswawarman.
Aswawarman mempunyai tiga anak, satu di antaranya berjulukan Mulawarman. Pada saatpemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai berhasil berkembang menjadi sebuah kerajaan besar. Hal ini terlihat dari prasasti yang ditemukan. Bukti kebesarann dapat ditunjukkan sebagai berikut. 
  1. Raja menggelar upacara waprakeswara (sebidang tanah suci) setiap tahunnya.
  2. Raja memperlihatkan hadiah kepada para brahmana berwujud tanah, ternak, dan emas dengan adil.
Mulawarman memerintah kerajaan Kutai dengan bijaksana. Pada masa pemerintahannya, rakyat hidup makmur. Sebagai bentuk ucapan terima kasih, rakyat melakukan  seperti berikut. 
  1. Mengadakan kenduri  keselamatan raja.
  2. Membuat prasasti/ yupa yang berisi tulisan  perihal raja mereka.
Para brahmana turut membangun sebuah watu bertulis. Hal ini sebagai bentuk ungkapan terima kasih kepada Raja Mulawarman. Raja telah memperlihatkan hadiah kepada mereka menyerupai minyak kental, lampu, dan lembu sebanyak 20.000 ekor. Peninggalan sejarah dari Kerajaan Kutai yang bercorak kerajaan Hindu antara lain:
1) Tujuh yupa yang diketemukan sekitar Muara Kaman pada 1879 dan 1940.
2) Kalung Cina  erbuat dari emas.
3) Arca bulus.
4) Arca Buddha dari perunggu.
5) Arca batu.

2. Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan bercorak hindu berikutnya yaitu Kerajaan Tarumanegara. Keberadaan kerajaan Tarumanegara sanggup dilacak dengan ditemukannya tujuh buah prasasti. Selain itu, dari banyak sekali sumber gosip dari luar negeri. Kerajaan Tarumanegara letaknya di Sungai Citarum, Bogor, Jawa Barat. Kerajaan Tarumanegara berdiri pada masa kala ke-5 M. Wilayah kerajaan ini mencakup Karawang, Jakarta, Banten , dan Bogor. 
Raja yang terkenal  adalah Purnawarman. Raja Purnawarman penganut agama Hindu beraliran Wisnu. Mata pencaharian utama penduduk Tarumanegara yaitu tani dan berdagang. Namun, para petani sering mengalami gagal panen lantaran dilanda petaka banjir.
Pada tahun ke-22 masa pemerintahan Purnawarman, dibangunlah saluran air. Tujuan dari pembangunan kanal itu yaitu untuk mengairi sawah dan mencegah banjir. Saluran itu dikenal dengan Gomati dan Chandrabagha. Pembuatannya memakan waktu selama 21 hari. Panjang kanal yaitu 6.112 tombak (11 km).
Selesainya proses pembangunan kanal air ditandai penyerahan sejumlah 1.000 ekor lembu kepada para brahmana. Raja Purnawarman dikenal sebagai raja yang gagah berani. Ia tegas menghadapi banyak sekali problem dan musuh. Kerajaan bercorak Hindu tertua di pulau Jawa ini  selalu mengadakan kekerabatan yang baik dengan bangsa lain. Contohnya dengan Cina. Hal ini dibuktikan dalam
catatan bangsa Cina dan Prasasti Tarumanegara. Sumber lainnya, penuturan Fa Hsien, seorang musafir Buddha dari Cina menyampaikan bahwa di Tarumanegara terdapat lebih dari satu agama  kepercayaan. Ajaran Hindu yang berkembang di Tarumanegara diajarkan Rahib Gunawarman.
Kerajaan Tarumanegara mempunyai banyak peninggalan sejarah. Semua peninggalan sanggup memperlihatkan keberadaan dari kerajaan Tarumanegara.
Peninggalan sejarah yang dimaksud antara lain:

 agama Hindu di Indonesia berawal sekitar  7 Kerajaan Bercorak Hindu Di Indonesia
Prasasti Ciaruteum

  1. Prasasti Ciaruteun: Ditemukan di tempat Ciampea, Bogor. Pada prasasti ini terdapat telapak kaki Raja Purnawarman dan lukisan berupa laba-laba. Raja Purnawarman dianggap perwujudan Dewa Wisnu.
  2. Prasasti Jambu: Ditemukan di tempat Bukit Koleangkak, 30 km  barat daya Kota Bogor, tertulis kata tarumayam (Tarumanegara).
  3. Prasasti Lebak (Cidanghiang): Ditemukan di tempat Kampung Lebak, Pandeglang, menyebutkan bahwa Raja Purnawarman merupakan raja yang agung, pemberani, dan perwira.
  4. Prasasti Kebon Kopi: Ditemukan di tempat Kampung Muara Hilir, Bogor, terdapat lukisan telapak kaki Airawata (gajah kendaraan dari Dewa Wisnu).
  5. Prasasti Tugu: Ditemukan di tempat Desa Tugu, Cilincing, Jakarta Utara, mempunyai goresan pena terpanjang yang menceritakan pembuatan kanal air (Gomati dan Chandrabhaga).
  6. Prasasti Pasir Awi: Ditemukan di tempat Pasir Awi, Bogor, terdapat lukisan tapak kakidan hingga kini belum sanggup dibaca lantaran dalam bentuk abjad ikal. 
  7. Prasasti Muara Cianten: Ditemukan di tempat Muara Cianten, Bogor, prasasti ini juga belum sanggup terbaca.
Selain prasasti juga diketemukan arca-arca. Misalnya arca Rajarsi di Jakarta. Di Desa Cibuaya ditemukan arca Wisnu Cibuaya I dan Wisnu Cibuaya II.

3. Kerajaan Mataram Kuno

 Kerajaan bercorak Hindu berikutnya yaitu Mataram Kuno. Kerajaan ini berdiri pada kala ke-8 M, terletak di pedalaman Jawa Tengah. Bukti keberadaan dari kerajaan ini tertulis dalam Prasasti Canggal dan Prasasti Balitung (Mantyasih). Berdasarkan prasasti tersebut, kerajaan bermula semenjak masa  pemerintahan Raja Sanjaya yang diberi gelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Prasasti Canggal juga mengungkap pendirian lingga di Desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya.
Sebelum itu, Kerajaan Mataram Kuno dipimpin raja bernama Sanna. Raja Sanna memerintah rakyat secara bijaksana. Kerajaan ini kaya padi dan emas. Oleh alasannya yaitu itu, Pulau Jawa menerima julukan Jawadwipa.

 agama Hindu di Indonesia berawal sekitar  7 Kerajaan Bercorak Hindu Di Indonesia
Candi Prambanan

Peninggalan sejarah dari Kerajaan Mataram Kuno sangat banyak, diantaranya Candi Gedong Songo, kompleks candi Dieng, dan komplek Candi Prambanan. Kehidupan rakyat terbilang cukup makmur, dibuktikan banyaknya candi-candi.

4. Kerajaan Kediri

Pada 1019 M terdapat Kerajaan Kahuripan yang dipimpin  Raja Airlangga. Ia mempunyai tiga orang anak diantaranya Sanggramawijaya, Samarawijaya, dan Mapanji Garasakan. Pada awalnya, Airlangga memperlihatkan tahta kepada Sanggramawijaya. Tetapi, Sanggramawijaya tidak bersedia. Ia lebih menentukan jalan hidup sebagai pertapa. Sanggramawijaya dijulukiRaja Sucian atau Dyah Kili Suci.

 agama Hindu di Indonesia berawal sekitar  7 Kerajaan Bercorak Hindu Di Indonesia
Patung Airlangga diwujudkan sebagai Wisnu yang
sedang menunggang garuda.

Namun, Airlangga masih mempunyai 2 anak lainnya, dan ia pun membagi kerajaan menjadi dua bagian. Hal ini bertujuan untuk menghindari perang saudara.
Pada 1041 M, Mpu Bharada membagi Kerajaan Kahuripan sesuai perintah Airlangga. Kerajaan Panjalu atau Kerajaan Kediri yang beribu kota di Daha diserahkan kepada Samarawijaya. Kerajaan Jenggala atau Kahuripan yang berpusat di Kahuripan diserahkan kepada Mapanji Garasakan. Airlangga kemudian mengasingkan diri menjadi pertapa dengan nama Resi Gentayu. Tahun 1049, Airlangga wafat kemudian dimakamkan di Candi Belahan.
Berikut ini beberapa raja yang pernah memerintah Kediri.

  1. Bameswara /Kameswara I (tahun 1115–1130 M)
  2. Jayabaya (1130–1160 M)
  3. Sarweswara (1160–1170 M)
  4. Aryyeswara
  5. Gandra
  6. Srungga
  7. Kertajaya (1200–1222 M)
Kertajaya yaitu raja terakhir Kerajaan Kediri. Ia dijuluki Dandhang Gendhis. Akhirnya, Kertajaya  terpaksa menyerahkan kerajaannya kepada Kerajaan Singasari (Ken Arok). Peristiwa itu menandai final dari riwayat Kerajaan Kediri.
Menurut dongeng rakyat yang ada, pembagian Kerajaan Kediri dilakukan oleh Mpu Bharada dengan cara terbang di udara. Ia membawa kendi yang berisi air yang dituangkan ke kawah. Air yang dituangkan tersebut mengalir menjadi Sungai Brantas.
Peninggalan Kerajaan Kediri berupa prasasti, antara lain:
  1. Prasasti Penumbangan (1120) 
  2. Prasasti Hantang (1135) 
  3. Prasasti Talan (1136)
  4. Prasasti Jepun (1144) 
  5. Prasasti Weleri (1169) 
  6. Prasasti Angin (1161)
  7. Prasasti Padlegan (1170) 
  8. Prasasti Jaring (1181)
  9. Prasasti Semandhing (1182)
  10. Prasasti Ceker (1185)
Peninggalan bidang kesusastraan di antaranya adalah:
• Kakawin Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa
• Kresnayana 
karya Mpu Triguna
• Samanasantaka
karyaMpu Managuna
• Smaradahana 
karya Mpu Darmaja
• Hariwangsa oleh Mpu Panuluh
• Gathotkaca Sraya 
karya Mpu Panuluh
• Bharatayuda
karyaMpu Panuluh dan Mpu Sedah
• Wrestasancaya dan kidung Lubdhaka 
karya Mpu Tanakung.

5. Kerajaan Singosari

Kerajaan bercorak Hindu berikutnya yaitu Kerajaan Singasari. Kerajaan ini didirikan oleh Ken Arok. Pada mulanya, Ken arok adalah Akuwu Tumapel, ia membantu para brahmana Kediri melawan Raja Kertajaya. Setelah menang perang, Kerajaan Kediri dan Tumapel akibatnya bergabung. Maka muncul kerajaan baru, Kerajaan Singasari. Raja yang memerintahantara lain:
1) Ken Arok (1222–1227)
Kemenangan Ken Arok atas Kertajaya menciptakan dirinya populer dan harum. Raja pertama Kerajaan Singasari yaitu Ken Arok. Ia diberi gelar  Sri Rajasa Batara Sang Amurwabhumi.
Ken Arok menciptakan sebuah dinasti gres berjulukan Girindrawangsa. Ken Arok menganggap bahwa dirinya yaitu keturunan Dewa Syiwa.
Sebagai raja, masa kemudian Ken Arok sangatlah buruk. Ia membunuh Mpu Gandring dan Tunggul Ametung. Bahkan, ia juga memperistri Ken Dedes (istri Tunggul Ametung). Pada masa  itu, Ken Dedes sedang mengandung anak dari Tunggul Ametung. Janin tersebut sesudah lahir berjulukan Anusapati.
Perkawinan Ken Arok dengan Ken Dedes mempunyai tiga anak. Ada Mahisa Wong Ateleng, Panji Saprang, Panji Agnibaya, dan Dewi Rimbu. Perkawinan Ken Arok dengan Ken Umang mempunyai empat anak. Masing-masing berjulukan Panji Tohjaya, Panji Sudhatu, Panji Wrengola, dan Dewi Rambi.
Perlakuan Ken Arok terhadap Anusapati berbeda dengan anak yang lain. Anusapati menjadi curiga. Anusapati bertanya kepada orang di sekitarnya. Anusapati mengetahui bahwa Ken Arok yang membunuh ayah kandungnya. Lalu Anusapati membunuh Ken Arok dengan memakai keris Mpu Gandring. Dengan tewasnya Ken Arok, berakhirlah kekuasaannya di Singsari.
2) Anusapati (1227–1248)
Anusapati akibatnya menjadi raja Singasari menggantikan Ken Arok, namun tidak berhasil menciptakan kemajuan Kerajaan Singasari. Anusapati mempunyai kegemaran mengadu ayam. Ia tidak punya banyak waktu untuk memikirkan nasib rakyatnya. Anusapati juga dibunuh dengan keris Mpu Gandring. Anusapati dibunuh oleh Tohjaya yang dendam atas terbunuhnya Ken Arok.
3) Tohjaya (1248 M)
Tohjaya naik tahta kerajaan dan hanya bertahan satu tahun, ini diakibatkan serangan dari Ranggawuni (anak dari Anusapati) yang dibantu Mahisa Cempaka.
4) Ranggawuni (1248–1268) 
Ranggawuni naik tahta mengganti Tohjaya. Ia bergelar Sri jaya Wisnuwardhana. Dalam memerintah, Ranggawuni didampingi oleh Mahisa Cempaka (anak dari Mahisa Wong Ateleng). Sepeninggal Ranggawuni, kekuasaan digantikan oleh puteranya yang berjulukan Kertanegara.
5) Kertanegara (1268–1292)
Kertanegara menduduki tahta kerajaan dengan bergelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Pada masa pemerintahannya, Singasari mencapai puncak keemasan. Kertanegara seorang raja berakal dan bijaksana. Kertanegara bercita-cita mempersatukan seluruh Nusantara dan menimbulkan Singasari sebagai sebuah kerajaan besar. Cita-cita Kertanegara tersebut dikenal Cakrawala Mandala
Untuk mewujudkan cita-citanya, Kertanegara melaksanakan usahausaha sebagai berikut. 
  1. Mengganti sejumlah pejabat pemerintahan yang kurang mendukung keinginan besarnya.
  2. Mempembarui sistem pemerintahan. Ia membentuk penasihat raja yang terdiri atas Rakyan I Hino, Rakyan I Sirikan, dan Rakyan I Halu. Ia juga membentuk pejabat tinggi yang terdiri Rakyan Mahapatih, Rakyan Demang, dan Rakyan Kanjuruhan.
  3. Menaklukkan beberapa wilayah, antara lain Bali, Sunda, Pahang, Kalimantan Barat, dan Maluku, serta melaksanakan ekspedisi Pamalayu ke Sriwijaya.
  4. Mempererat kekerabatan dengan luar negeri, contohnya dengan negara Campa.
Semasa Kertanegara berkuasa, kekaisaran Cina ulet memperluas wilayah kekuasaan. Singasari termasuk wilayah yang ingin ditaklukkan. Kaisar Kubilai Khan mengirim seorang utusan kepada Kertanegara. Tujuannya agar Singasari mau mengakui kekuasaan Kubilai Khan. Kertanegara dengan tegas menolak undangan itu. Akibatnya, Kubilai Khan sangat murka dan mendatangkan pasukan dari Cina. T1292 M, pasukan Singasari dikerahkan menghadapi kekuatan bangsa Cina. Secara bersamaan, tiba serangan dari Kediri dipimpin oleh Jayakatwang. Kertanegara membagi pasukannya. Pasukan dipimpin oleh menantunya, yaitu Raden Wijaya dan Ardaraja (anak Jayakatwang). Namun, pasukan Ardaraja justru berbalik membantu Jayakatwang (ayahnya) dan menyerang Singasari, dan Singasari mengalami kekalahan. Jayakatwang berhasil membunuh Kertanegara. Kertanegara dikubur di Candi Singasari. Lalu, bagaimana nasib
RRaden Wijaya bersama pengikutnya, yaitu Ranggalawe, Sora, dan Nambi menyelamatkan diri ke Madura. Raden Wijaya memanfaatkan kedatangan bangsa Cina dalam menyerang Jayakatwang. Raden Wijaya menghasut para pasukan Cina. Ia menyampaikan bahwa Jayakatwang yaitu Kertanegara yang mereka cari. Pasukan Cina menyerang Jayakatwang. Terbunuhnya Jayakatwang mengakhiri riwayat Kerajaan Singasari.
Adapun peninggalan sejarah Kerajaan Singasari di antara lain:

 agama Hindu di Indonesia berawal sekitar  7 Kerajaan Bercorak Hindu Di Indonesia
Candi Singasari

  1. Candi Kagenengan, Candi Weleri, Candi Jago, Candi Mireng, dan Candi Singasari.
  2. Arca Prajnaparamita dan arca Amoghapasya. 
  3. Prasasti Sarwadhana (1269).

Kerajaan Majapahit


Majapahit merupakan Kerajaan Hindu terakhir di Indonesia. Kerajaan Majapahit didirikan  Raden Wijaya. Kerajaan Majapahit terletak di tempat Kecamatan Trowulan, Mojokerto sebelah barat Surabaya. Kerajaan Majapahit mempunyai kekerabatan dengan Kerajaan Singasari. Raden Wijaya yaitu menantu Kertanegara.
1) Raden Wijaya (1293–1309)
Raden Wijaya raja pertama sekaligus pendiri Majapahit yang bergelar Sri Kertarajasa Jayawardana. Beliau memerintah didampingi oleh empat putri Kertanegara sebagai permaisurinya. Di antaranya Tribhuwaneswari, Narendradahita, Prajnaparamita, dan Gayatri. Para pengikut Raden Wijaya yang turut berjasa diangkat menjadi menjadi pejabat tinggi pemerintahan. Pada tahun 1309, Raden Wijaya meninggal. Akhirnya, Kerajaan Majapahit diserahkan Jayanegara. Jayanegara yaitu putra dari perkawinannya dengan permaisuri Tribhuwaneswari.
2) Jayanegara (1309–1328)
Pada pemerintahan Jayanegara banyak pemberontakan. Pemberontakan intinya kelanjutan dari pada Raden Wijaya. Ada pemberontakan Ranggalawe (1309), Sora (1311),  Nambi (1316),  Rasemi (1318), dan  Kuti (1319).
Pemberontakan yang terbesar yaitu Kuti. Muncul seorang ksatria berjulukan Gajah Mada. Ia berhasil menyelamatkan raja dari upaya pembunuhan. Ia berhasil menumpas pemberontakan. Pada tahun 1328, Jayanegara meninggal. Jayanegara diracun oleh tabib istana yang berjulukan Tancha.
3) Tribhuwanatunggadewi (1328–1350)
Jayanegara tidak mempunyai anak. Oleh alasannya yaitu itu, tahta selanjutnya diganti oleh Tribhuwanatunggadewi. Ia merupakan adik tiri Jayanegara. Tribhuwanatunggadewi yaitu putri Raden Wijaya dengan Gayatri.
 agama Hindu di Indonesia berawal sekitar  7 Kerajaan Bercorak Hindu Di Indonesia
Gajah Mada dikala memimpin
pasukan


Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan di Sadeng (1331). Namun Gajah Mada berhasil
menumpasnya. Akhirnya Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Majapahit. Gajah Mada bersumpah untuk menyatukan Nusantara. Sumpah itu disebut Sumpah Palapa.
4) Hayam Wuruk (1350–1389)
Hayam Wuruk anak Tribhuwanatunggadewi dengan Kertawardhana.
Masa kejayaan Majapahit terjadi pada pemerintahan Hayam Wuruk, dimana wilayah kekuasaannya mencakup seluruh Indonesia. Bahkan, sampai ke negeri Siam, Birma, Kamboja, Amman, India, dan Cina. 

Peninggalan Kerajaan Majapahit berupa candi dan karya satra. Peninggalam berupa candi antara lain
  • Candi Panataran, 
  • Candi Sawentar, 
  • Candi Bora,
  •  Candi Sumberjati, 
  • Candi Jabung, 
  • Candi Bajang Ratu, 
  • Candi Tikus, dan 
  • Candi Sukuh.
Adapun peninggalan karya sastra antara lain 
  • Negara Kertagama (sejarah Singasari dan Majapahit); 
  • Sutasoma (cerita agama Buddha); 
  • Kunjarakarna (cerita agama Buddha); serta 
  • Pararaton (sejarah Singasari dan Majapahit/legenda).
Zaman keemasan Majapahit berakhir sepeninggal Hayam Wuruk dan Gajah Mada .Hayam Wuruk wafat tahun 1389 dan Gajah Mada wafat tahun 1346.
5) Wikramawardhana (1389–1400)
Setelah Hayam Wuruk wafat, tahta diduduki oleh Wikramawardhana (menantu Hayam Wuruk). Setelah 12 tahun memerintah, ia mengundurkan diri pada tahun 1400.
6) Putri Suhita
Putri Suhita anak dari Wikramawardhana. Pengangkatan Suhita tidak disetujui Bhre Wirabhumi, yaitu anak Hayam Wuruk dari seorang selir. Perang saudara terjadi antara Ratu Suhita dengan Bhre Wirabhumi. Perang ini dikenal dengan Perang Paregreg (1401–1406).
Jadi, runtuhnya Majapahit  disebabkan oleh :
  1. Tidak adanya tokoh yang berpengaruh untuk menjaga kesatuan sehingga banyak tempat jajahan yang melepaskan diri. 
  2. Terjadinya perang Paregreg (1401–1406), 
  3. berkembangn anutan Islam di Pulau Jawa, 
  4. datangnya armada Cina yang dipimpin Cheng–Ho.
Demikian artikel 7 kerajaan bercora Hindu di Indonesia.