5 Film Indonesia Ini Penuh Hujatan, Ada yang Dapat Kritikan Pedas Meski Belum Tayang

by
5 Film Indonesia Ini Penuh Hujatan, Ada yang Dapat Kritikan Pedas Meski Belum Tayang

Bukan sebuah hal baru jika Film Indonesia seringkali tidak diminati di negeri sendiri. Terkadang, ketika film garapan sineas tanah air bersandingan dengan film-film Barat di bioskop, banyak orang Indonesia yang malah membeli tiket untuk menonton film garapan luar negeri tersebut. Rupanya, baru-baru ini terkuak alasan mengapa para pecinta film lebih memilih karya luar negeri. TIPS KESEHARIAN

Selain karena film Indonesia akan kembali ditayangkan di televisi, netizen menilai bahwa terkadang karya anak bangsa ini kurang melakukan riset mendalam. Alhasil, hujatan pun turun kepada sang sutradara hingga para aktornya. Ngomong-ngomong soal hujatan, 5 film Indonesia ini pernah dikritik habis-habisan, loh, oleh para pemirsana. Simak ulasan lengkapnya berikut ini.  INFO SPECIAL

1. Sultan Agung: The Untold Story, dikritik langsung oleh Putri Raja Yogyakarta

Baru-baru ini dunia maya dihebohkan dengan pernyataan menohok dari Putri Sultan Hamengkubuwana X, yaitu Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara. Sembari mengunggah gambar salah satu adegan, ia menuliskan caption “hancur hatiku, kenapa yang memerankan Sultan Agung mengenakan parang kecil dan berwarna biru, sedangkan abdi dalem di belakangnya malah mengenakan parang yang lebih besar.”  FYI, parang adalah salah satu motif batik.  BERITA UNIK



Rupanya, film yang digarap oleh Hanung Bramantyo dan diperankan oleh Adinia Wirasti dan Ario Bayu ini sudah mendapat peringatan sebelum tayang. Sontak, netizen pun ramai-ramai menyerang instagram sang sutradara dan meminta pertanggung jawaban. Salah satu netizen pun berkata “kenapa enggak riset dulu, sih, mas. Film Black Panther saja riset kehidupan Afrika hingga dua tahun, sehingga filmnya bisa mengulik budaya secara dalam dan enggak ada kritikan dari warga aslinya.”

2. Benyamin Biang Kerok 2018, jumlah penonton tak sesuai ekspektasi

Baru satu hari setelah film pembaruan dari Benyamin Biang Kerok versi 1972 diputar di bioskop, sudah banyak kritikan netizen yang bermunculan. Sempat beberapa waktu setelah poster pertama keluar dan wajah Reza Rahadian terpampang nyata di sana, netizen sedikit kecewa dengan membatin “Reza lagi, Reza lagi.” Ada pula yang berkomentar bahwa Reza Rahadian terlalu ganteng untuk peran Benyamin.



Tim dari film versi daur ulang ini berekspektasi memiliki jumlah penonton sebesar 2 juta orang dalam 10 hari, tetapi nyatanya hingga hari ini, jumlah tiket yang sudah terjual masih 390 ribu saja. Selain itu, banyak netizen yang juga menyatakan bahwa komedi di film ini sangat dipaksakan. Meskipun begitu, sang produser eksekutif, Frederica tak ambil pusing dengan jumlah penonton serta hujatan yang masuk kepadanya, seperti yang diwartakan oleh Kompas.com.

3. Ruqyah: The Exorcism, dibilang plagiat film barat

Kali ini, bukan lagi film besutan sutradara Hanung Bramantyo, tetapi Jose Purnomo. Film yang dibintangi oleh Evan Saders dan Celine Evangelista ini menceritakan tentang proses penyelamatan seorang wanita yang mengaku sudah diikuti oleh setan selama bertahun-tahun. Dalam budaya Indonesia, ruqyah memang sering dilakukan pada orang-orang yang kesurupan.



Namun, Ruqyah: The Exorcism ini dinilai terlalu lebay dan plagiat, karena persis dengan film The Exorcist karya William Friedkin yang dirilis tahun 1973. Film The Exorcist sendiri merupakan film terseram sepanjang masa, karena film tersebut sudah tergolong lama dan ide ceritanya sungguh-sungguh dekat dengan kehidupan sehari-hari. Alhasil, film Ruqyah: The Exorcism ini pun tidak begitu laku di pasaran.

4. Yowis Ben, dinilai terlalu ndeso karena menggunakan Bahasa Jawa full

Sama seperti Sultan Agung: The Untold Love Story, film garapan YouTuber Bayu Skak ini juga banjir kritikan sebelum tayang, alias sesaat setelah video trailer dirilis. Hal tersebut dikarenakan, film Yowis Ben dianggap ndeso alias kampungan karena menggunakan Bahasa Jawa dalam setiap dialognya.



Netizen pun menyebut bahwa Bahasa Jawa adalah bahasa TKI, serta jika membuat film tidak dengan menggunakan Bahasa Indonesia disinyalir bisa memecah belah bangsa. Melihat hal tersebut, Bayu Skak pun ingin membuat pembuktian lewat film Yowis Ben ketika sudah tayang nanti. Dari tanggal 22 Februari hingga hari ini, jumlah tiket yang terjual sudah melebihi ekspektasi Bayu Skak sebesar 300 ribu lebih penonton.

5. Hoax, para pemerannya banyak dikritik

Film yang baru tayang awal Februari lalu ini mendapat banyak kritikan pedas dari netizen. Beberapa di antaranya adalah soal aktor yang memainkan tiga peran utama dalam film, yaitu Vino G. Bastian, Tora Sudiro, dan Tara Basro. Rupanya, kritikan netizen pada mereka sama dengan apa yang diterima Reza Rahadian dalam Benyamin Biang Kerok.



“Vino lagi, Vino lagi,” “Tora lagi, Tora lagi,” itulah yang disampaikan netizen pada dua aktor utama yang berperan di film Hoax. Banyak penonton yang sudah merasa bosan dengan kemampuan akting dua aktor ini. Meskipun begitu, Vino dan Tora menanggapi hal tersebut dengan santai.

Itulah lima film Indonesia yang banjir kritikan pedas dari netizen, serta para pecinta film di kalangan intelek. Melalui hal ini, rupanya sineas tanah air harus benar-benar belajar lagi mengenai riset, casting, serta hal-hal kecil lainnya, agar film yang disajikan tidak begitu-begitu saja. Para penikmat film pun begitu, jika sineas tanah air sudah bisa menyuguhkan film yang berkualitas, mbok yo ditonton karya anak bangsa sendiri.

loading...